Return Tinggi Dorong Asing Terus Masuk

Selasa, 15 Maret 2016 | 01:45 WIB
YW
FN
IS
EN
B
Ilustrasi IHSG
Ilustrasi IHSG (Antara/Puspa Perwitasari)

JAKARTA -- Return investasi yang tinggi dan membaiknya pertumbuhan ekonomi mendorong dana asing menderas masuk ke pasar modal Indonesia. Apalagi, banyak negara maju memberlakukan suku bunga negatif dan The Fed diperkirakan tidak menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Orang kaya Indonesia juga akan membawa pulang uang yang diparkir di luar negeri ketika kebijakan tax amnesty diberlakukan tahun ini.

Dana asing ini mengalir di pasar saham maupun obligasi. Dari awal Januari hingga Senin (14/3), net buy (pembelian bersih) saham oleh asing tercatat naik menjadi Rp 3,77 triliun. Tahun lalu, asing mencatatkan net sell (penjualan bersih) Rp 22,58 triliun. Sedangkan dana asing yang mengalir ke surat berharga negara (SBN) sebanyak Rp 36,42 triliun dari awal tahun ini hingga 11 Maret lalu, sehingga kepemilikan asing menembus Rp 594,94 triliun.

Analis PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adhi Joe mengatakan, capital inflow (aliran dana) asing berpotensi bertambah hingga awal April mendatang. Kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang memberlakukan suku bunga negatif membuat pemodal mencari tempat investasi dengan return (tingkat keuntungan) yang lebih menjanjikan.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio optimistis, dana masuk ke pasar modal Indonesia akan bertambah saat kebijakan tax amnesty (pengampunan pajak) diberlakukan. "Kebijakan tax amnesty yang direncanakan pemerintah mampu membawa pulang dana orang kaya yang parkir di luar negeri ke Tanah Air. Ada ribuan triliun rupiah dana orang-orang kaya ini di luar negeri. Dana besar itu tidak mungkin masuk semuanya ke bank, sebagian bisa masuk ke pasar modal," kata dia di Jakarta, Senin (14/3).

Ia menjelaskan, pasar reksa dana Indonesia berpotensi kebanjiran dana jika Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengampunan Pajak bisa segera disahkan menjadi undang-undang dan kebijakan tax amnesty diberlakukan tahun ini. Sebab, pemerintah akan mengarahkan dana repatriasi aset peserta tax amnesty ke reksa dana.

RUU ini sudah diserahkan presiden ke DPR dan ditargetkan bisa disahkan menjadi undang-undang pada semester I-2016. DPR berencana membahasnya pada awal April nanti.

Analis KDB Daewoo Indonesia Taye Shim mengatakan, perkembangan kebijakan bank-bank sentral global kini mendukung dana mengalir ke Indonesia. "Dana global menemukan jalan ke ekonomi yang membayar hasil tinggi. Indonesia berada pada daftar teratas, karena faktor high yield (imbal hasil tinggi) plus pertumbuhan ekonomi solid," paparnya di Jakarta, Senin (14/3).

Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, kemungkinan juga masih akan mempertahankan tingkat suku bunganya, Fed funds rate (FFR). Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang membahas suku bunga acuan AS ini dilangsungkan pada 15-16 Maret 2016.

Berbagai faktor tersebut mendorong kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI maupun nilai tukar rupiah kemarin. IHSG naik 1,32% atau 63,75 poin ke 4.877,53.

Net buy oleh asing kemarin sebesar Rp 8,5 miliar, sehingga akumulasi pembelian bersih secara year to date (ytd) naik menjadi Rp 3,77 triliun. Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, pada Senin (14/3), rupiah dibuka menguat 82 poin atau 0,63% ke Rp 12.993 per dolar AS, kemudian bergerak ke level Rp 13.013 per dolar AS atau menguat 62 poin (0,47%) dibanding hari sebelumnya.

Perkiraan bahwa The Fed masih akan mempertahankan tingkat suku bunganya dan imbas kebijakan Bank Sentral Eropa juga mendorong bursa-bursa Asia menguat, dengan indeks Nikkei 225 Jepang melejit 1,74% ke level 17.233,75. Investor juga berharap BoJ mengeluarkan stimulus baru pada pertemuan dua hari, yang berlangsung 14-15 Maret ini.

Di bursa saham AS, indeks juga menguat. Hingga pukul 12.43 Senin (14/3) waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 0,18% ke level 17.244,82. Demikian pula di bursa Inggris, indeks FTSE 100 meningkat 0,57% ke 6.174,57.

Jangan Terlena 
Ekonom Creco Research Institute Raden Pardede mengatakan, berbagai data positif perekonomian Indonesia saat ini perlu dilihat dalam kacamata jangka panjang. Ia meminta investor tidak terlena lantaran perbaikan data perekonomian belum tentu konsisten ke depan.

"Pertumbuhan ekonomi 4,8% (tahun 2015), nilai tukar rupiah terhadap dolar menguat ke level Rp 13.100 per dolar AS, cadangan devisa bertambah menjadi US$ 104,54 miliar per Februari lalu, dan defisit neraca transaksi berjalan (CAD) menyempit ke level 2,02% PDB. Welcome to the party, but don’t get too drunk," kata dia di sela acara Lippo Group Senior Executive Gathering di Karawaci, Kota Tangerang, Senin (14/4).

Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu yang sekitar 4,8% termasuk terbaik di antara emerging countries, setelah India dan Filipina. Tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi naik menjadi 5,3%.

"Namun, angka 4,8% itu belum cukup menciptakan lapangan kerja bagi angkatan kerja kita yang bertambah sekitar 2-2,5 juta per tahun. Artinya, belum cukup berkualitas. Bahkan, rasio pertumbuhan ekonomi terhadap serapan tenaga kerja menurun dari 1:450.000 lapangan kerja menjadi hanya 1:200.000. Kecuali pemerintah melakukan reformasi struktural yang ekstrem, rasanya pertumbuhan ekonomi 7% sulit tercapai. Untuk pertumbuhan 5,5% tahun ini juga berat, tergantung seberapa signifikan pemerintah melakukan perbaikan di sisi capital, labor market, maupun total faktor productivity," kata dia.

Untuk nilai rupiah, lanjut dia, dalam tiga bulan terakhir memang terapresiasi hingga 5,4%. Ini bersamaan dengan mata uang lain seperti seperti ringgit Malaysia yang menguat 4,8% year to date terhadap dolar AS, peso Chile 4%, forint Hungaria 3,4%, dolar Singapura 2,8%, leu Romania 2,5%, ruble Rusia 1,9%, baht Thailand 1,7%, lev Bulgaria 1,1%, serta real Brasil 5,6%.

"Namun, dibanding dengan soft currency yang relatif stabil apresiasi/depresiasinya terhadap dolar AS -- seperti won Korea, rupee India, dan lira Turki -- mata uang Indonesia menguat terlalu tajam dan menjadi bias di tengah tren currency war. Lebih baik keep di level Rp 13.100 per dolar AS, karena kalau terlalu menguat nanti pas melemah ke level Rp 14.000 per dolar AS misalnya, effort-nya butuh lebih," kata mantan eksekutif Danareksa Research Institute ini.

Ia menambahkan, penguatan rupiah juga ditopang kebijakan suku bunga negatif negara lain yang menyebabkan aliran modal masuk sudah bertambah sekitar Rp 30 triliun sepanjang tahun ini, terutama di SBN. Alhasil, kepemilikan asing di SBN naik menjadi 39,1%, yang bisa membuat Indonesia rawan terhadap sudden reversal.

"Memang, untuk net interest margin surat utang negara nggak ada yang semenarik Indonesia. Misalnya bandingkan saja dengan US treasury notes yang sama-sama jatuh tempo 10 tahun, itu spread yield-nya bisa 275 basis poin," tambah dia.

Sementara itu, Kiswoyo optimistis capital inflow bisa dipertahankan hingga April mendatang. "Secara historikal, capital inflow bisa dipertahankan hingga April. Ini karena nanti ada apresiasi terhadap data-data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan lebih baik," ujar Kiswoyo.

Menurut dia, sentimen laporan kinerja emiten sepanjang 2015 serta rencana pembagian dividen tahun buku 2015 mampu menarik minat pemodal asing untuk mengakumulasi saham-saham pilihan. Selain itu, saat ini, pemodal juga telah memperhitungkan kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia yang lebih memberikan kepastian.

"Misalnya rencana Bank Indonesia terhadap suku bunga acuan (BI rate), terkait kondisi suku bunga The Fed. Saat ini sudah terlihat sinyal dari kebijakan mereka," ujar dia.

Kiswoyo juga memprediksi, seiring dengan kuatnya capital inflow, IHSG juga masih bakal terdongkrak. Indeks bisa bergerak menuju level 5.000 di April 2016. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon