Pelaku Pengeboman Brussels Dikenal sebagai Siswa Baik
Sabtu, 26 Maret 2016 | 00:37 WIB
Brussels – Najim Laachraoui adalah seorang mahasiswa yang baik dengan catatan disiplin tanpa cela di sebuah sekolah Katolik Brussels. Namun dia tumbuh menjadi sosok pembuat bom yang tangguh di Suriah dan menyerang jantung kota Brussels dan melancarkan teror di Paris.
Pria berusia 24 tahun ini, dikonfirmasi oleh jaksa federal Belgia, Jumat (25/3) waktu setempat, sebagai salah satu dari dua orang yang meledakkan diri di bandara Brussels, pada Selasa (22/3). Informasi pelaku diketahui sehari setelah polisi mengidentifikasi dia sebagai salah seorang tersangka melalui DNA yang ditemukan di bahan peledak yang digunakan di ibukota Prancis, pada Desember.
Pernyataan yang disampaikan jaksa federal tentu mengejutkan. Pasalnya teman-teman dan keluarga mengingatnya sebagai anak yang sangat cerdas serta gemar bermain frisbee dan sepak bola.
"Saya tidak mengerti bagaimana seseorang dapat dicuci otak begitu cepat," ujar teman kampusnya di jurusan teknik mesin elektro, yang mengenalnya sejak tahun pertama, 2012, dalam akun Facebook.
"Bagaimana kamu bisa berganti posisi dan meledakkan dirimu sendiri. Padahal kamu pernah bermain dalam turnamen Frisbee setiap akhir pekan? Saya tidak mengerti!"
Dalam laman Facebook juga terlihat sebuah gambar, dimana ada delapan siswa yang sedang tersenyum di depan kamera, termasuk Laachraoui, di atas tangga sekolah Brussels Free University's Polytechnic.
"Dia berada di dalam kelompok studi saya, kami bertemu setiap minggu, dia juga datang ke apartemen saya. Tidak pernah terasa bahwa dia akan menembak saya," bunyi pernyataan dalam akun Facebook itu.
Sedangkan Valerie Bombaerts, juru bicara universitas, mengungkapkan kepada AFP bahwa Laachraoui berhasil menyelesaikan tahun pertamanya, tapi tidak melanjutkan.
Menurut teman lamanya, terakhir kali dia melihatnya adalah pada akhir tahun, ketika Laachraoui mengatakan "Hai bagaimana ya? Sepertinya saya akan berhenti dari politeknik, ini bukan bidang saya. Saya kemungkian akan melanjutkan ke jurusan kesehatan."
Sementara itu, di sekolah Katolik, di mana dia menyelesaikan studi menengahnya di 2009 – Sainte-Famille d'Helmet Institute, di distrik Schaerbeek Brussels' – kepala sekolahnya, Veronica Pellegrini mengaku tidak tahu apa-apa.
"Saya tidak tahu apa yang telah terjadi. Dia adalah siswa yang baik dengan catatan disipilin tanpa cela. Dia tidak pernah tinggal kelas," katanya kepada AFP.
Sedangkan dalam konferensi pers yang disiapkan terburu-buru, Kamis, adik lelakinya yang bungsu Mourad (20 tahun), juara Taekwondo kelas dunia, menggambarkannya sebagai sosok pria muda yang terbilang biasa-biasa saja dan sedang mempelajari Muslim, di mana tindak radikalisasinya telah mengejutkan keluarga.
"Dia adalah anak lelaki yang cukup baik, dan sangat cerdas. Dia sedikit bermain sepak bola, membaca, ujar adik bungsunya.
Menurut adiknya, Laachraoui menghilang dari rumah keluarga di awal 2013 setelah mereka pindah rumah dan dia menghubungi orangtuanya melalui telepon untuk menyampaikan bahwa dia akan pergi ke Suriah. Mereka pun menelpon polisi, tapi tidak pernah mendengarnya kabarnya lagi. Itulah kontak terakhir Laachraoui dengan keluarganya.
Menurut Mourad, kakak lelakinya sedang mempelajari Muslim dalam sebuah keluarga Muslim dan dia tidak pernah melihat ada perubahan dalam perilaku keagamaan Najim.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




