Ketegangan Meningkat, Gencatan Senjata Suriah Terancam Runtuh

Rabu, 13 April 2016 | 00:50 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Utusn PBB untuk Suriah Staffan de Mistura saat menggelar konferensi pers di markas PBB, Jenewa, Kamis, 24 Maret 2016.
Utusn PBB untuk Suriah Staffan de Mistura saat menggelar konferensi pers di markas PBB, Jenewa, Kamis, 24 Maret 2016. (AFP Photo/Fabrice Coffrini)

Beirut – Gencatan senjata Suriah terancam runtuh di tengah meningkatnya pertempuran baru, terutama di provinsi Aleppo utara. Ini bertepatan dengan dilanjutkannya perundingan damai di Jenewa.

Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah Staffan de Mistura telah menyampaikan perundingan yang kembali dilanjutkan, pada Rabu (13/4), sangatlah penting. De Mistura sendiri sedang berada di Iran, untuk berbicara dengan pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Babak perundingan di Jenewa yang berlangsung pekan ini akan menjadi yang kedua kalinya, sejak rezim pemerintah Suriah dan kelompok pemberontak sepakat untuk melakukan gencatan senjata, yang ditengahi oleh Moskow, dan Washington, serta diberlakukan luas sejak 27 Februari.

Perundingan itu pun memunculkan harapan bahwa pada akhirnya ada langkah-langkah yang diambil untuk menyelesaikan konflik selama lima tahun, dan telah menghancurkan negara serta menewaskan lebih dari 270 ribu orang.

Namun sekarang berkembang kekhawatiran bahwa lonjakan kekerasan yang terjadi baru-baru ini secara khusus difokuskan di provinsi Aleppo, yang berbatasan dengan Turki, sehingga semakin memberi tekanan intens pada perjanjian gencatan senjata.

Di sisi lain, pasukan pro-pemerintah, pada Selasa (12/4), terus merangsek maju ke kota Al-Eis, yang dikuasai oleh para pejuang dari afiliasi setempat Al-Qaeda, Al-Nusra Front dan pemberontak yang bersekut, demikian dilaporkan kelompok pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

Para anggota jihad dari Al-Nusra dan kelompok Negara Islam (NI) tidak disertakan dalam gencatan senjata namun d beberapa daerah para militan Al-Qaeda berskutu dengan pasukan pemebrontak yang dimaksudkan untuk melindungi gencatan senjata.

Pesawat-pesawat tempur rezim pemerintahan juga telah melancarkan serangan udara luar biasa dalam beberapa hari ke bagian timur kota Aleppo yang dikuasai pemberontak, demikian menurut Observatorium yang berbass di Inggris, yang mengandalkan informasi dari jaringan luar sumber-sumber di dalam wilayah Suriah.

Pasukan rezim pemerintah Suriah yang didukung Rusia menekakan serangan serupa di seluruh kota Aleppo selama gagalnya putaran perundungan damai sebelumnya di akhir Januari.

Negara-negara Barat pun melimpahkan kesalahan kepada eskalasi militer pemerintah karena gagalnya perundingan-perundingan itu.

Sementara itu, Al-Nusra dan kelompok pemberontak sekutu mendorong serangan mereka sendiri ke kota Khan Touman di dekat kota Aleppo, demikian disampaikan Observatorium.

Washington telah menyatakan kekhawatiran bahwa serangan terhadao Al-Nusra di Aleppo dapat menyebar ke faksi-faksi pemberontak moderat, yang dapat menyebabkan runtuhnya gencatan senjata dan menggagaklkan upaya perdamaian.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon