83 Tapol dapat Ampunan Presiden Myanmar
Senin, 18 April 2016 | 16:27 WIB
Yangon – Presiden Myanmar Htin Kyaw memberi ampunan kepada 83 tahanan politik (tapol) dalam perayaan Tahun Baru, menurut kalender tradisional negara itu, pada Minggu (17/4). Menurut juru bicara pemerintah, pembebasan tahanan politik dilakukan karena pemerintahan yang dipimpin sipil ini berusaha menyingkirkan belenggu kekuasaan militer hampir setengah abad.
Di awal pekan pertamanya berkuasa, pemerintahan baru – yang dikendalikan oleh tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi, telah membebaskan sejumlah aktivis politik yang ditahan di bawah kepemimpinan militer negara.
"Kesemua 83 tahanan yang diberikan amnesti oleh presiden hari ini adalah para tahanan politik dan tahanan yang tersangkut dengan kasus-kasus politik," kata Zaw Htay, wakil direktur kantor kepresidenan, kepada AFP.
Ampunan presiden itu dirilis, pada Minggu pagi waktu setempat, dan menyatakan amnesti diberikan dengan tujuan membuat orang-orang merasa bahagia dan damai, serta mempromosikan rekonsiliasi nasional selama perayaan Tahun Baru.
Sementara itu, media setempat menayangkan rekaman gambar reuni yang menggembirakan saat para tahanan yang dibebaskan meninggalkan penjara yang ada di seluruh negeri. Mereka keluar dengan membawa tas kecil berisi barang-barang pribadi dan kembali berkumpul dengan orang-orang terkasih di luar gerbang penjara.
Di antara para tahanan yang mendapat pengampunan, pada Minggu, adalah lima wartawan yang dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun sejak 2014, atas laporan menuding militer memproduksi senjata kimia. Tudingan itu pun mendapat bantahan oleh pemerintah.
Bahkan pengurangan hukuman wartawan menjadi tujuh tahun mendapat kecaman dari kelompok hak asasi manusia, karena dianggap sebagai bentuk penghinaan yang berat.
"Kami telah menantikan kabar baik ini dari pemerintahan yang baru," ungkap Yarzar Oo, salah satu wartawan dari Unity Weekly News, kepada AFP melalui sambungan telepon setelah dibebaskan dari penjara Pakokku di wilayah Magway.
Kelompok ini disambut dengan bunga oleh kerabat mereka yang telah berkumpul di luar penjara di pada malam hari, sebelum mengetahui kabar pembebasan mereka.
Sedangkan tahanan lain yang dibebasakan dalam laporan media setempat adalah Htin Lin Oo, seorang penulis sekaligus mantan petugas informasi NLD, serta Htin Kyaw, seorang aktivis demokrasi yang memilki kesamaan nama dengan presiden. Keduanya sudah berada di dalam penjara selama lebih dari 10 tahun hingga akhirnya keluar dari penjara terkenal di negeri itu.
"Pembebasan ini mendapat sambutan baik, namun NLD harus segera membebaskan tahanan politik lainnya sesegera mungkin," kata Bo Kyi, dari Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), kelompok pengawas yang melacak informasi tentang keberadaan tahanan negara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




