Empat Daerah Kaltim Terbanyak Kasus HIV-AIDS
Sabtu, 10 Maret 2012 | 16:09 WIB
Terbanyak Kota Samarinda 1.031 pengidap, menyusul Kota Balikpapan 503 pengidap, Kota Tarakan 314 pengidap, dan Kabupaten Kutai Kartanegara 102 pengidap.
Dari 2.288 penderita HIV-AIDS yang tersebar di 14 daerah, tercatat ada empat kabupaten dan kota dengan kasus terbanyak.
"Jumlah HIV-AIDS terbanyak adalah Kota Samarinda yang mencapai 1.031 pengidap, Kota Balikpapan 503 orang, Kota Tarakan 314 orang, dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terdapat 102 pengidap," ujar Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Dinas Kesehatan Kaltim, dr Achlia Dahlan di Samarinda, Sabtu (10/3).
Jumlah penderita yang mencapai 2.288 orang itu merupakan data kumulatif sejak 1993 hingga 2012. Dari jumlah itu, 662 orang di antaranya telah menjadi penderita AIDS, dan 401 orang di antaranya meninggal dunia.
Guna mencapai keberhasilan dalam meminimalisasi (menanggulangi) HIV-AIDS agar tidak berkembang, maka harus tercipta kerja sama sinergis secara terencana dan berkelanjutan. Baik antara Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), dinas kesehatan mulai tingkat Kaltim hingga kabupaten dan kota, termasuk perlu kepedulian berbagai pihak dari elemen masyarakat.
Penyebaran penyakit ini paling banyak terjadi dari dua faktor, yakni melalui jarum suntik yang biasanya digunakan para pecandu narkoba. Selain itu dari hubungan seks yang tidak sehat, di antaranya berhubungan dengan pekerja seks komersial.
Sedangkan saat ini jumlah PSK yang tersebar di Kaltim, baik yang langsung maupun tidak langsung sudah mencapai 11.560 orang. Mereka tersebar pada 42 lokalisasi di sejumlah kabupaten dan kota.
Di Kaltim tercatat HIV-AIDS kali pertama ditemukan lokalisasi kilometer 10 Samarinda-Balikpapan pada 1993.
Sejak saat itu, perkembangan penyakit itu terus menyebar hingga sejumlah daerah, hanya Kabupaten Tana Tidung yang hingga saat ini belum terdeteksi adanya HIV-AIDS.
Dalam upaya penanggulangan penyakit tersebut, pihaknya tak sekadar melakukan di lokalisasi maupun pada kelompok tertentu yang dinilai rentan terhadap penyebarannya, tapi juga dilakukan sejak dini, yakni pada usia 14 hingga 20 tahun.
Ada beberapa hal yang dilakukan dalam penanggulangannya, misalnya melibatkan ulama untuk melakukan penyuluhan agar tidak berselingkuh, atau tetap setia pada pasangan masing-masing.
Bagi yang remaja agar memperkuat agama sehingga tidak mudah terjerumus pada hal-hal yang dapat menyebabkan terjangkitnya HIV-AIDS.
Kegiatan lainnya adalah, mendistribusikan kondom di sejumlah lokalisasi dan di tempat-tempat tertentu, bahkan hingga ke masyarakat. Semua itu dilakukan karena penyebaran HIV-AIDS telah mewabah di lingkungan rumah tangga, sehingga perlu penanggulangan.
Dari 2.288 penderita HIV-AIDS yang tersebar di 14 daerah, tercatat ada empat kabupaten dan kota dengan kasus terbanyak.
"Jumlah HIV-AIDS terbanyak adalah Kota Samarinda yang mencapai 1.031 pengidap, Kota Balikpapan 503 orang, Kota Tarakan 314 orang, dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terdapat 102 pengidap," ujar Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Dinas Kesehatan Kaltim, dr Achlia Dahlan di Samarinda, Sabtu (10/3).
Jumlah penderita yang mencapai 2.288 orang itu merupakan data kumulatif sejak 1993 hingga 2012. Dari jumlah itu, 662 orang di antaranya telah menjadi penderita AIDS, dan 401 orang di antaranya meninggal dunia.
Guna mencapai keberhasilan dalam meminimalisasi (menanggulangi) HIV-AIDS agar tidak berkembang, maka harus tercipta kerja sama sinergis secara terencana dan berkelanjutan. Baik antara Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), dinas kesehatan mulai tingkat Kaltim hingga kabupaten dan kota, termasuk perlu kepedulian berbagai pihak dari elemen masyarakat.
Penyebaran penyakit ini paling banyak terjadi dari dua faktor, yakni melalui jarum suntik yang biasanya digunakan para pecandu narkoba. Selain itu dari hubungan seks yang tidak sehat, di antaranya berhubungan dengan pekerja seks komersial.
Sedangkan saat ini jumlah PSK yang tersebar di Kaltim, baik yang langsung maupun tidak langsung sudah mencapai 11.560 orang. Mereka tersebar pada 42 lokalisasi di sejumlah kabupaten dan kota.
Di Kaltim tercatat HIV-AIDS kali pertama ditemukan lokalisasi kilometer 10 Samarinda-Balikpapan pada 1993.
Sejak saat itu, perkembangan penyakit itu terus menyebar hingga sejumlah daerah, hanya Kabupaten Tana Tidung yang hingga saat ini belum terdeteksi adanya HIV-AIDS.
Dalam upaya penanggulangan penyakit tersebut, pihaknya tak sekadar melakukan di lokalisasi maupun pada kelompok tertentu yang dinilai rentan terhadap penyebarannya, tapi juga dilakukan sejak dini, yakni pada usia 14 hingga 20 tahun.
Ada beberapa hal yang dilakukan dalam penanggulangannya, misalnya melibatkan ulama untuk melakukan penyuluhan agar tidak berselingkuh, atau tetap setia pada pasangan masing-masing.
Bagi yang remaja agar memperkuat agama sehingga tidak mudah terjerumus pada hal-hal yang dapat menyebabkan terjangkitnya HIV-AIDS.
Kegiatan lainnya adalah, mendistribusikan kondom di sejumlah lokalisasi dan di tempat-tempat tertentu, bahkan hingga ke masyarakat. Semua itu dilakukan karena penyebaran HIV-AIDS telah mewabah di lingkungan rumah tangga, sehingga perlu penanggulangan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




