Pengemudi Mayasari Bhakti Keluhkan Rute Tumpang Tindih dengan Transjakarta
Senin, 25 April 2016 | 13:09 WIB
Jakarta - Pengemudi angkutan umum Mayasari Bhakti AC 25 Jurusan Tanjung Priok - Bekasi via Tol Podomoro mengeluhkan semakin sepinya jumlah penumpang yang mereka angkut sejak keberadaan rute bus TransJakarta dengan rute serupa.
Semakin menurunya jumlah penumpang membuat pendapatan para supir dan kenek Mayasari Bhakti AC 25 tersebut menurun drastis hingga 80%.
Deny Noor (38) pengemudi Bus Mayasari Bhakti AC 25 dengan nomor polisi B-7173-XA, mengaku jumlah penumpang yang ia angkut sudah menurun drastis dan kurang dari 10 penumpang dari kapasitas bus yang mencapai 30 hingga 50 penumpang.
"Kami pasti terkena dampak juga dengan beroperasinya bus TransJakarta koridor baru menuju Bekasi Barat. Penumpang pasti lebih memilih menggunakan armada TransJakarta karena harganya selisih Rp 6.500," ujar Deny, Senin (25/4) siang kepada Suara Pembaruan di salah satu lajur tunggu Terminal Bus Tanjung Priok.
Menurutnya, bila pada kondisi biasa ia bisa narik hingga empat rit, namun dengan kondisi seperti saat ini, maksimal ia hanya bisa menarik dua rit, yakni pada saat jam berangkat kerja dan jam pulang kerja.
"Apalagi kalau macet, sudah solar keluar banyak, penumpang sedikit, kita juga bawa uang dari komisi semakin minim, kalau dulu minimal bisa isi 20 sampai 30 penumpang, sekarang bisa dapat 10 penumpang saja sudah hebat," tambahnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Junaedi (37) pengemudi Bus Mayasari Bhakti AC 25 dengan nomor polisi B-7225-TGA, yang mengaku sudah mulai merasakan dampak semakin sepi dan berkurangnya penumpang.
"Ongkos pengeluaran semakin bertambah karena biaya akomodasi juga bertambah, tapi komisi semakin berkurang. Susah sekarang mas kerja di rute bus dalam kota, banyak perusahaan atau pemilik mobil yang gulung tikar karena tidak bisa bersaing dengan TransJakarta ataupun ojek online," kata Junaedi.
Ia mengaku hanya diberikan uang makan dan akomodasi untuk satu rit sebesar Rp 40 ribu daripihak perusahaan. Sedangkan sistem komisi prosentasenya hanya 10% dari jumlah penumpang yang berhasil diangkut selama perjalanan.
"Jelas kita kalah saing, yang Transjakarta tarifnya hanya Rp 3.500, sedangkan kita Rp 10 ribu, jelas jomplang sekali bedanya. Harapan kami ya supaya pemerintah daerah juga bisa memindahkan seluruh armada mayasari bhakti yang bersinggungan rutenya untuk bergabung dengan Transjakarta," kata Junaedi.
Sedangkan, Alan (57), salah seorang warga kelurahan Warakas yang menumpang Bus Mayasari Bhakti AC 25 mengaku keberadaan rute yang saling bersinggungan itu bisa berdampak positif untuk transportasi umum di Jakarta.
"Mayasari Bhakti juga harus berbenah diri untuk memperbaiki armadanya. Saya lihat juga banyak kendaraan AC 25 yang sudah reot bodinya, penumpang pasti lambat laun akan memilih transportasi umum yang murah dan nyaman," kata Alan.
Ia juga berharap Pemerintah Kota Bekasi mendukung rute-rute yang sudah ada tersebut dengan mensosialisasikan kepada warganya sehingga bisa mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke Jakarta.
"Kalau bisa diberikan pembatasan bagi kendaraan dari luar Jakarta yang masuk ke Jakarta, jadi kemacetan di dalam kota bisa berkurang," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




