Analisis: Batasan Elektronik Bangkitkan Rossi
Rabu, 27 April 2016 | 22:01 WIB
Jerez - Bahkan para penggemar Valentino Rossi paling fanatik tidak akan bisa memprediksi kalau idola mereka itu akan bisa menang dengan cara begitu lugas di Jerez. Lalu, bagaimana dia bisa menaklukkan semua lawannya itu dengan begitu meyakinkan?
Tujuh tahun berlalu sejak kemenangan terakhir Rossi di Spanyol, bertepatan dengan tahun terakhir dia menjadi juara dunia, dan Rossi bisa menaklukkan dua rival terbesarnya, Jorge Lorenzo and Marc Marquez, di kandang mereka.
Memang ini merupakan kemenangan ke-87 The Doctor di kelas premier, atau yang ke-113 sejak dia memulai karir balapan 1996, namun tetap saja itu bukan kemenangan biasa.
Ambil contoh: tak pernah sebelumnya Rossi start dari pole position lalu terus memimpin di setiap putaran hingga finis, sebelum balapan di Jerez itu. Sulit dipercaya, tapi fakta.
Rahasia kesuksesannya? Menurut investigasi Jamie Klein, editor Motorsport.com, jawabnya mungkin hanya seputar pergelangan tangan kanan dia, atau lebih spesifik lagi, bagaimana Rossi bisa menguasai tarikan gas pada era ketika penyeragaman elektronik musim 2016 mulai menyulitkan sebagian besar pembalap.
Minim Bantuan Komputer
Menjelang dimulainya musim ini, para pembalap mengeluhkan bahwa electronics control unit (ECU) standar yang diterapkan "merupakan langkah mundur" dibandingkan dengan ECU yang biasa mereka pakai.
Jadi, mungkin tidak terlalu mengagetkan bahwa pembalap paling tua dan paling berpengalaman di grid (dan satu-satunya yang pernah membalap tanpa bantuan begitu banyak perangkat modern yang dipakai generasi sesudahnya) bisa mengatasi tantangan khusus di Jerez berupa trek yang licin dan tapak ban belakang keras Michelin lebih baik dari siapa pun.
Pengendalian gas yang terukur membuat Rossi mampu mencegah gejala spinning up, yaitu kondisi ban berputar tapi tidak ada traksi. Masalah ini dikeluhkan banyak pembalap, termasuk Lorenzo.
"Kami bisa melihat berbagai gaya membalap yang berbeda hari Minggu lalu," kata Ramon Forcada, kepala kru Lorenzo.
"Mungkin saja gaya seperti itu datang dari era ketika Valentino membalap tanpa bantuan elektronik. Faktanya, ketika Jorge tiba di Yamaha (2008), kami tercengang bagaimana dia bisa mengendalikan tuas gas, khususnya ketika ban mulai aus."
"Dia (Lorenzo) mampu menjaga laju yang konsisten memakai tarikan gas saat ban mulai aus -- namun ketika bantuan elektronik meningkat pesat, para pembalap mulai terbiasa membiarkan elektronik yang melakukan itu semua."
Ketika para rivalnya kesulitan dengan ban belakang, Rossi mampu membuat gap 0,2 detik per putaran setelah sebelumnya mengatasi perlawanan Lorenzo di putaran kedua.
"Hal yang menguntungkan Rossi adalah dia mampu menafaatkan daya cengkeram seadanya dengan mengatur tarikan gas," kata Forcada.
"Semua orang banyak mengalami selip, bahkan di lintasan lurus pada gigi kelima. Ketika itu terjadi, elektronik yang tersedia sekarang tidak cukup bagus untuk bisa mengoreksinya."
"Karena gejala selip tak mau hilang, pembalap harus mengatasinya dengan mengendalikan tarikan gas. Dengan elektronik yang lama, marjin kesalahan lebih besar."
Terbalik, Penentuan di Paruh Pertama bukan Terakhir
Pada paruh pertama balapan, Rossi sudah memimpin 2,8 detik namun yang lebih penting lagi adalah kondisi ban belakang dia masih relatif bagus dibandingkan para rivalnya.
Lorenzo akhirnya mampu memangkas jarak menjadi 2 detik, tapi kondisi ban tidak memungkinkan untuk bertarung di putaran-putaran terakhir.
Gap terjauh mereka adalah 4,226 detik di akhir putaran ke-24, dan Rossi finis dengan keunggulan 2,386 detik.
Manajer Lorenzo, Wilco Zeelenberg, mengatakan balapan di Jerez merupakan kebalikan dari balapan-balapan lain, di mana pembalap harus menjaga kondisi ban di awal balapan, bukan di akhir, dan itulah yang menentukan hasilnya.
"Semua orang mengatakan paruh kedua balapan akan membuat perbedaan, namun yang sebenarnya terjadi balapan ditentukan di 14 putaran pertama," kata Zeelenberg.
"Valentino berhasil menjauh tiga detik, dan dari situ ban mulai rusak dan berikutnya hanya soal bagaimana bisa bertahan dan menuju finis."
"Kami sama sekali tidak melihat Valentino kesulitan atau membalap hingga ke limitnya. Keunggulan tiga detik membuat dia mampu mengendalikan balapan dan berpikir di atas motor."
Tentu para fans Rossi berharap hal seperti ini akan menjadi rutin, tapi Lorenzo dan Marquez akan berusaha bangkit. Lagipula, kombinasi faktor seperti trek licin di Jerez, grip rendah, temperatur tinggi dan ban belakang Micgelin kaku sulit terulang di trek-trek selanjutnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




