BoJ Tunda Tambahan Stimulus
Kamis, 28 April 2016 | 22:15 WIB
Tokyo - Bank of Japan (BoJ) mengejutkan pasar keuangan pada Kamis (28/4) setelah menunda peluncuran langkah-langkah stimulus baru. Timbul pertanyaan apakah masih ada instrumen kebijakan untuk membangkitkan perekonomian Jepang yang rapuh.
Para pialang saham terkejut mendengar keputusan BoJ, yang menyebabkan nilai tukar yen meroket. Keterkejutan timbul setelah serangkaian data ekonomi yang lemah di pagi hari waktu setempat meningkatkan tekanan kepada para pembuat kebijakan untuk lekas mendorong pertumbuhan.
BoJ juga memangkas prospek pertumbuhan ekonomi dan memundurkan lagi batas waktu untuk mencapai target inflasi 2,0%, menjadi sebelum awal 2018 dari sebelumnya pada September 2017.
Langkah ini menggarisbawahi tantangan untuk menaklukkan deflasi telah selama ini membebani pertumbuhan ekonomi Jepang.
Target harga konsumen bank sentral adalah landasan strategi pemerintah untuk membangkitkan perekonomian nomor tiga di dunia.
"Ini adalah kesempatan terakhir untuk (Gubernur BoJ Haruhiko) Kuroda," kata Hideo Kumano, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute.
Tetapi kenyataannya, tambah dia, sasaran inflasi akan menjadi sangat sulit dicapai. Kuroda pada Kamis mengulangi perkataannya bahwa ia tidak akan ragu untuk meluncurkan stimulus baru, namun masih ingin melihat bagaimana dampak dari kebijakan stimulus negatif yang diluncurkan pada Januari 2016.
"Menurut saya, kemampuan kami untuk melonggarkan lagi kebijakan tidak lah menjadi terbatas," kata Kuroda kepada para wartawan.
Kebijakan suku bunga negatif bertujuan mendorong penyaluran kredit, karena bank yang menyimpan sebagian kelebihan cadangannya di BoJ akan dikenai biaya. Namun langkah ini dilihat sebagai kebijakan putus asa untuk menyelamatkan strategi pertumbuhan Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe, yang disebut Abenomics.
Pasar finansial tadinya memperkirakan BoJ mengeluarkan kebijakan baru atau memperluas rencana pembelian aset tahunan, yang mencapai 80 triliun yen.
Karena kebijakan dipertahankan, nilai tukar yen melonjak tajam. Dolar AS anjlok menjadi 108,31 per yen pada sesi siang, Kamis. Indeks saham Nikkei di Bursa Tokyo anjlok lebih dari 3%. Para eksportir terpukul oleh lonjakan yen.
"Pasar sekarang berpikir dampak langkah-langkah pelonggaran BoJ menjadi terbatas," kata Minori Uchida, kepala riset pasar global Tokyo di Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ.
Data yang dirilis Kamis menunjukkan bahwa harga-harga konsumen Jepang turun paling banyak dalam tiga tahun.
Penurunan yang mencapai 0,3% pada Maret dibandingkan tahun lalu dan melebihi ekspektasi pasar itu diserta data terpisah, yang menunjukkan belanja rumah tangga masih lesu. Tapi produksi rebound dan pasar tenaga kerja mengetat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




