Buntut Penculikan Abu Sayyaf, RI Akan Bertemu Malaysia dan Filipina

Kamis, 28 April 2016 | 22:56 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arrmanatha Nasir.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arrmanatha Nasir. (Istimewa)

Jakarta – Dua peristiwa penculikan anak buah kapal (ABK) asal Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf di wilayah perairan Sulu dan Sulawesi membuat Pemerintah Republik Indonesia (RI) berinsiatif melakukan pertemuan dengan Malaysia dan Filipina, pada 5 Mei 2016.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Arrmanatha Nasir atau Tata, sesuai dengan intruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P Marsudi dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, pertemuan tersebut akan membahas upaya bersama meningkatkan keamanan di wilayah tersebut.

"Menlu dan Panglima TNI akan mengadakan pertemuan trilateral dengan Menlu dan Panglima militer dari Malaysia dan Filipina, pada 5 Mei di Gedung Pancasila Kemlu," ujar Tata di Jakarta, Kamis (28/4).

Tata juga memastikan bahwa para peserta pertemuan akan hadir. "Rencananya pertemuan itu akan diawali dengan courtesy call dengan Presiden Jokowi di pagi hari dan mereka berenam akan melanjutkan pembahasan," tambahnya.

Adapun, salah satu agenda pembicaraan adalah kemungkinan diadakannya patroli bersama antara angkatan bersenjata ketiga negara di sekitar perairan tersebut.

Pertemuan ini diharapkan akan menghasilkan satu pernyataan bersama atau joint statement yang intinya adalah menegaskan kembali komitmen ketiga negara untuk menjaga keamanan di kawasan yang menjadi kepentingan bersama ini serta peningkatan koordinasi guna mencapai tujuan tersebut.

"Selain joint statement, akan ada pula MoU dari ketiga panglima, berisikan kesepakatan yang lebih detail oleh ketiga angkatan bersenjata untuk menjaga keamanan maritim di kawasan tersebut," kata Tata.

Kawasan perairan Sulawesi dan Sulu merupakan jalur penting perdagangan bagi tiga negara itu. Apabilan terus terjadi penculikan tentu akan mengganggu kepentingan ekonomi. "Ini merupakan kepentingan bersama untuk mengamankan jalur ini," jelas Tata.

Tata menegaskan bahwa penyelamatan sandera terus diupayakan dan pihak Filipina selalu memberikan informasi terkini kepada Indonesia melalui Menlu Retno.

"Kita saling membantu untuk menyelamatkan 14 sandera ini. Tidak ada hambatan. Tiap hari ada komunikasi, baik telepon maupun text. Setiap ada perkembangan dikasih tahu. Kita juga memastikan para sandera tetap aman," tambahnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon