Jokowi Ajak Elemen Bangsa Bersatu Jadi Pemenang

Senin, 23 Mei 2016 | 20:28 WIB
NL
B
Penulis: Novy Lumanauw | Editor: B1
Presiden Joko Widodo berpidato di depan ribuan kader Muhammadiyah saat membuka Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 23 Mei 2016.
Presiden Joko Widodo berpidato di depan ribuan kader Muhammadiyah saat membuka Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 23 Mei 2016. (Fuska Sani Evani/ Suara Pembaruan)

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak seluruh elemen bangsa bersatu untuk menjadi pemenang pada era kompetisi saat ini. Presiden Jokowi mengatakan setiap untuk tampil sebagai bangsa pemenang, setiap elemen jangan mau diadu domba untuk kepentingan sempit kelompok tertentu.

"Musuh kita jelas, yaitu kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. Dan, sekarang kita sedang bersaing dengan bangsa lain. Mari kita bersatu untuk menjadi bangsa pemenang," kata Presiden Jokowi pada pembukaan Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah di Bantul, Yogyakarta, Senin (23/5).

Mendampingi Presiden Jokowi, di antaranya, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menko PMK Puan Maharani, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar.

Selain membuka konvensi, Presiden Jokowi juga menandatangani enam prasasti, yang mencatat pencapaian-pencapaian Muhammadiyah di bidang pendidikan, seperti prasasti tentang pendirian Universitas Aisyiah (Unisa) dan pendirian Fakultas Ilmu Falaq pertama di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Sejumlah tokoh nasional akan tampil sebagai pembicara pada konvensi yang disebut-sebut menjadi ajang konsolidasi internal di kalangan pengurus Muhammadiyah. Para tokoh itu, di antaranya, Presiden kelima Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-11 Republik Indonesia Boediono, Mantan Ketua MPR Amien Rais, Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Muzadi, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshidiqie.

Selain itu, sejumlah kepala daerah seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Sorong Stepanus Malak, dan Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo akan berbagi pengalaman dalam membangun daerah.

Tim Komunikasi Presiden (TKP) Sukardi Rinakit melalui pernyataan tertulis yang diterima Investor Daily, mengungkapkan pada awal sambutannya Presiden menceritakan tentang pengalamannya ketika berkunjung ke Korea Selatan, pekan lalu.

Presiden, lanjut Sukardi, menuturkan bahwa pada 1950 hingga 1970-an, Korea Selatan memiliki kondisi yang hampir lebih sama seperti Indonesia. Ketika menapaki tahun 1970 ke atas, Korea Selatan memulai sebuah era industri.

"Indonesia pun sebetulnya telah memiliki industri saat itu, yakni PT PAL. Tapi apabila kita melihat sejarah kedua negara ada yang bisa dipetik, di Korea Selatan mulai industri, di Indonesia memulainya. Di sana pertanian, di sini juga kita pertanian. Namun pada dekade berikutnya Korea Selatan menjadi raksasa ekonomi dunia dengan GDP luar biasa besar dibandingkan kita," katanya.

Dia mengatakan, ada dua kunci keberhasilan Korea Selatan yang harus dipetik, yakni keterbukaan dan keberanian inovasi. "Mereka (Korea Selatan) bersikap terbuka dan berlomba-lomba untuk berinovasi. Dan, mereka berlomba-lomba untuk mengejar kemajuan. Mereka terbuka karena berani bersaing dengan negara lain," jelas Jokowi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon