Rodrigo Duterte Tolak Hadiri Sidang Penetapan Presiden Filipina

Senin, 30 Mei 2016 | 23:46 WIB
HA
B
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: B1
Presiden Filipina terpilih Rodrigo Duterte mengatakan ingin berada di kampung halamannya di bagian selatan Davao.
Presiden Filipina terpilih Rodrigo Duterte mengatakan ingin berada di kampung halamannya di bagian selatan Davao. (AFP Photo/Manman Dejeto)

Manila – Rodrigo Duterte dianggap telah melecehkan parlemen yang menetapkan dirinya sebagai presiden Filipina terpilih, Senin (30/5). Ia menolak menghadiri sidang penetapan sehingga semakin memperkuat citranya sebagai sosok eksentrik yang berniat menantang pembentukan politik negara.

Sidang bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat di Manila yang digelar, pada Senin, mengesahkan hasil hitungan resmi pemilihan umum (pemilu) 9 Mei 2016. Sidang tersebut menetapkan bahwa sang politisi bersuara vokal – yang menjanjikan membunuh para penajahat – berhasil memenangkan lebih dari enam juta suara.

Namun Duterte – yang akan dilantik pada 30 Juni – menolak menghadiri acara yang disiarkan televisi di seluruh negeri dan lebih memilih untuk tetap berada di kotanya, yang terletak di bagian selatan Davao. Di kota itulah, dia telah menjadi walikota selama dua puluh tahun terakhir dan diakui sebagai zona nyamannya.

"Saya tidak menghadiri upacara pengesahan. Saya tidak pernah menghadiri acara pengesahan apapun sepanjang hidup saya," ujar Duterte kepada wartawan di akhir pekan.

Diberitakan bahwa sejak pemilu, Duterte selalu menolak datang ke Manila dan berjanji untuk tetap berada di Davao sampai dirinya menjadi presiden.

Alhasil, ini memaksa para politisi, para pemangku kepentingan, para pelaku usaha, dan orang-orang di istana terbang ke Davao untuk melakukan pertemuan.

Selain itu, dalam pukulan lebih lanjut yang disebut "Imperial Manila", Duterte telah menunjuk banyak politisi dari Filipina selatan untuk menempati posisi-posisi di kabinet.

Di sisi lain, Duterte kerap berulangkali melontarkan penghinaan selama berada di Manila. Pekan lalu, dia menggambarkan daerah itu sebagai kota mati yang dibanjiri oleh daerah-daerah kumuh.

Dia juga menyampaikan rencananya supaya dapat menghabiskan sedikit waktu sebagai presiden di ibu kota sebisa mungkin, dan berharap dapat pulang pergi ke Davao setiap hari.

Sementara itu, menurut Ramon Casiple, direktur eksekutif Institut Politik dan Reformasi Ekonomi, ketidakhadiran Duterte dalam upacara di Manila, pada Senin, memberikan pesan bahwa dia tidak akan terikat dengan para anggota parlemen.

"Itu adalah simbol bahwa dia hanya tidak ingin dibatasi oleh Kongres," kata Casiple kepada AFP.

Namun, beberapa pendukung Duterte kecewa karena Duterte menghindari tangga penting dalam kalender demokrasi Filipina.

"Kami mencoba meyakinkan dia supaya mau mengubah pikirannya, tapi sayangnya dia tetap kukuh," ujar Aguirre, yang ditunjuk Duterte sebagai menteri kehakiman mendatang, kepada televisi CNN Filipina.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon