Awas, Obesitas Sentral Bisa Berujung Kanker Hati

Senin, 6 Juni 2016 | 12:51 WIB
DM
YD
Penulis: Dina Manafe | Editor: YUD
Ilustrasi kegemukan (obesitas)
Ilustrasi kegemukan (obesitas) (Istimewa)

Jakarta - Anda yang memiliki ukuran perut tidak proporsional dengan tubuh, perlu berhati-hati. Bisa jadi Anda menderita obesitas sentral, yaitu kondisi kronis di mana terjadi penumpukan lemak berlebih hanya di bagian perut. Ini berbeda dengan obesitas yang ditandai dengan kegemukan di semua bagian tubuh. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi penduduk Indonesia dengan obesitas sekitar 15,4%, tetapi obesitas sentral jauh lebih besar yaitu 26,6%.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Inge Permadhi, mengatakan, obesitas sentral itu adalah penanda bahwa bukan hanya seluruh tubuh itu obesitas, tapi juga perut gemuk. Obesitas sentral terjadi karena sel lemak menutupi organ-organ di dalam perut, termasuk hati.

"Bahayanya, terjadi perlemakan hati atau sel lemak menutupi organ hati, sehingga tidak berfungsi optimal. Hati yang tadinya merah seperti kita lihat pada hati ayam, menjadi pucat. Dalam beberapa waktu kemudian sekitar 10 atau lebih, perlemakan hati ini bisa menyebabkan kanker hati," kata Inge Permadhi di sela-sela kampamye "Gerakan 7 Hari Minum Susu" oleh Sarihusada dalam mendukung Hari Minum Susu Nusantara 2016 di Jakarta, Minggu (5/6).

Inge mengatakan, mereka yang berisiko adalah perempuan yang ukuran pinggangnya lebih dari 80 cm, dan laki-laki lebih dari 90 cm. Dengan ukuran perut seperti itu ada kemungkinan sel lemak telah menutupi organ hati, yang ujung-ujungnya bisa menyebabkan kanker hati.

"Ini berisiko terjadi pada mereka yang makan banyak melebihi kebutuhan, tetapi kurang olah raga. Sel lemak akan tertumpuk dan tertimbun banyak hanya di bagian perut," kata Inge.

Inge mengatakan, makan pada dasarnya berfungsi untuk memberikan tenaga atau energi pada tubuh. Tapi bila energi ini berlebihan dan tidak terpakai, akan tersimpan dalam bentuk lemak di dalam tubuh. Seseorang yang banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori, seperti gula dan lemak, ditambah kurang aktifitas fisik, rentan mengalami obesitas sentral.

Karena itu, makanlah secukupnya sesuai dengan kebutuhan individu. Makanan pun harus beragam, agar zat gizi karbohidrat, lemak, protein, vitamin maupun mineral terpenuhi secara seimbang. Juga berolah raga untuk membakar lemak perut.

Juga dianjurkan mengukur berat badan melalui penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Manfaatnya untuk mengetahui apakah seseorang mengalami kekurangan, kelebihan, atau berat badan yang sehat.

Rumus yang dipakai adalah berat badan dibagi tinggi dalam satuan meter kuadrat (m²). Contoh, jika berat badan 66 kilogram dan tingginya 1,65 meter, maka penghitungannya adalah 66/(1,65 X 1,65)= 24,24 kg/m². Jika hasil IMT berada di bawah angka 18,5 kg/m², maka kekurangan berat badan.

Jika berada di antara 18,5-22,9 kg/m², maka berat badan normal, sebaliknya bila 23-24,9 kg/m², maka kelebihan berat badan. Jika angka di atas 30 kg/m² maka sudah tergolong obesitas.

"Lemak perut hanya bisa dibakar dengan aktifitas fisik, bukan cuma dengan minum air lemon atau jeruk di pagi hari. Olah raga bukan hanya untuk bakar lemak, tetapi untuk menambah otot agar sesuai berat badan," kata Inge.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon