Tekan Impor, BPPT Dukung Pengembangan Bahan Baku Antibiotik
Senin, 6 Juni 2016 | 16:17 WIB
Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PT Kimia Farma dan Sungwun Pharmacopia (Korea Selatan), menandatangani kerja sama tiga pihak untuk pengembangan bahan baku obat antibiotik sefalosporin dan turunannya di Indonesia.
Disadari, Indonesia membutuhkan berkembangnya teknologi dan industri farmasi agar mampu menekan ketergantungan bahan baku obat dari impor. Saat ini, sekitar 95 persen bahan baku obat untuk kebutuhan industri farmasi Indonesia masih diimpor dari Tiongkok (60 persen) dan India (30 persen). Besarnya nilai ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku obat impor hingga saat ini, dinilai masih mengkhawatirkan.
Kepala BPPT, Unggul Priyanto, mengatakan, pengembangan industri farmasi di Indonesia sangat penting untuk mengurangi impor. Apalagi, lanjut dia, hampir 95 persen bahan baku obat mengandalkan impor.
"BPPT siap mendorong dan kerja sama untuk pengembangan industri antibiotik di Indonesia," katanya di sela-sela penandatangan kerja sama tiga pihak di Jakarta, Senin (6/6).
Secara teknologi, Indonesia sudah siap memproduksi bahan baku obat sendiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang melimpah.
Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan, kajian untuk memproduksi bahan baku obat khususnya antibiotika golongan beta laktam sesungguhnya telah di mulai oleh BPPT sejak tahun 1990an.
Tetapi karena kurangnya dukungan dan tidak ada yang mengawal jadi seolah mati suri. Untuk mengatasi kendala tersebut, BPPT melalui unit kerjanya di Balai Bioteknologi terus melakukan inovasi untuk menghasilkan teknologi produksi bahan baku obat yang efisien.
"Masalah kesehatan di Indonesia semakin mahal. Dalam outlook teknologi kesehatan, bahan baku obat poin penting dan harus diproduksi di Indonesia," ucapnya.
Pasar industri obat di Indonesia tahun 2015 mencapai Rp 60 triliun dan diperkirakan tahun 2020 mencapai Rp 102 triliun. Terkait obat, tahun lalu BPPT sudah menjual paten ke PT Kimia Farma berupa garam farmasi untuk infus. Industri tersebut mampu mendukung 30 persen kebutuhan nasional. Malahan ditargetkan bisa memenuhi 100 persen kebutuhan garam farmasi nasional.
Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Rusdi Rosman, menjelaskan penentuan harga obat yang dikonsumsi masyarakat 75-80 persennya dari bahan baku dan 20-35 persennya biaya pemasaran dan ongkos produksi.
"Bayangkan jika 75 persen nasib kita bergantung impor. Bahkan kita ingin tidak hanya produksi untuk kebutuhan sendiri tapi juga bisa mengekspornya," katanya.
Nantinya dalam kerja sama ini, akan ada transfer teknologi dan pemanfaatan laboratorium bersama. Terdapat tiga teknologi untuk menghasilkan teknologi ini antara lain fermentasi, enzimatik transfer dan sintetis.
BPPT dan Sungwun akan mengkaji studi kelayakannya dalam 6 bulan ke depan. PT Kimia Farma sudah menyiapkan lahan seluas 12 hektare di Cikarang untuk membangun industri antibiotika ini.
Sefalosporin dan turunannya adalah jenis antibiotik yang diminati di Amerika Serikat dan Jepang. Saat ini Tiongkok menguasai pasar sefalosporin. Namun, karena mengandalkan teknologi fermentasi, harus berurusan dengan isu lingkungan meskipun harganya murah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




