Dialog AS-Tiongkok Dibayangi Isu Laut China Selatan

Senin, 6 Juni 2016 | 22:56 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
(Kiri-Kanan) Menteri Keuangan AS Jacob Lew, Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Wakil-wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu Yandong dan Wang Yang, serta Penasehat Negara Tiongkok Yang Jiechi saat berfoto bersama dalam acara Dialog Strategi dan Ekonomi AS-Tiongkok di Beijing, Senin, 6 Juni 2016.
(Kiri-Kanan) Menteri Keuangan AS Jacob Lew, Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Wakil-wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu Yandong dan Wang Yang, serta Penasehat Negara Tiongkok Yang Jiechi saat berfoto bersama dalam acara Dialog Strategi dan Ekonomi AS-Tiongkok di Beijing, Senin, 6 Juni 2016. (AFP Photo)

Beijing – Presiden Tiongkok Xi Jinping menyampaikan, Senin (6/6), antara negaranya dengan Amerika Serikat harus ada saling percaya satu sama lain. Ini dikarenakan kedua belah pihak sedang berupaya meredakan ketegangan di Laut China Selatan.

"Tiongkok dan Amerika Serikat harus meningkatkan rasa saling percaya," kata Xi dalam pembukaan dialog strategis tahunan. Dia juga menyerukan untuk melipatgandakan upaya-upaya bagi dua kekuatan ini untuk mengelola konflik dan menghindari salah penilaian strategis.

Xi menambahkan, beberapa perselisihan tidak dapat diselesaikan pada saat ini. Namun kedua belah pihak harus mengambil sikap pragmatis dan konsruktif terhadap isu-isu itu.

"Wilayah Pasifik yang luas harusnya menjadi panggung kerja sama bukannya sebagai panggung kompetisi," pungkasnya.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) JohnKerry juga menyerukan solusi diplomatik terhadap masalah itu.

"Kami mencari resolusi damai untuk sengketa di Laut China Selatan dan menentang negara manapun yang menyelesaikan klaim dengan aksi sepihak," katanya. Pernyataannya merujuk pada ekspansi Tiongkok yang semakin agresif di daerah itu.

Di sisi lain, Tiongkok telah mengklaim hampir seluruh wilayah laut itu, kendati ada tumpang tindih klaim dari beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Negeri Tirai Bambu tersebut mempertegas klaimnya dengan percepatan pembangunan pulau buatan yang cocok digunakan untuk fasilitas militer.

Washington pun merespons dengan mengirimkan kapal-kapal perang mendekati wilayah terumbu karang yang diklaim Tiongkok, sehingga membuat Beijing berang.

Selain itu, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Vietnam juga saling klaim terhadap wilayah-wilayahnya yang ada di Laut China Selatan – yang meliputi rute pelayaran global yang penting serta diyakini memiliki cadangan minyak dan gas yang signifikan.

Bahkan, Pemerintah Manila menuding Tiongkok telah mengambil kendali gugusan karang Scarborough dan membawa kasus ini ke Pengadilan Tetap Arbitrase di Den Haag. Tiongkok disebut-sebut mengelak dan tidak akan mengakui putusan apapun dari pengadilan.

Perundingan Beijing digelar setelah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keamanan, di akhir pekan di Singapura. Di acara tersebut Menteri Pertahanan AS Ashton Carter mengingatkan pembangunan apapun yang dilakukan Tiongkok di sebuah gugusan pulau akan segera menuai tindakan dari Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Laksamana Tiongkok Sun Jianguo merespons komentar Carter di KTT Keamanan dengan mengatakan isu tersebut jadi memanas dan Tiongkok tidak takut dengan permasalahan yang timbul di wilayah perairan itu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon