Adaro Ambil Alih IndoMet Coal dari BHP Billiton

Selasa, 7 Juni 2016 | 20:28 WIB
FN
B
Penulis: Farid Nurfaizi | Editor: B1
Tambang batubara PT Adaro Energy Tbk.
Tambang batubara PT Adaro Energy Tbk. (Adaro/Adaro)

Jakarta – Perusahaan tambang asal Australia, BHP Billiton Ltd sepakat menjual 75% saham pada proyek IndoMet Coal kepada PT Alam Tri Abadi, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Nilai transaksi ditaksir mencapai US$ 120 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun.

"Penyelesaian penjualan tergantung pada persetujuan regulator. Selama periode ini, BHP Billiton dan Adaro akan bekerja sama memfasilitasi kelancaran transfer kepemilikan," kata James Palmer, asset president IndoMet Coal, dalam penjelasan resmi, Selasa (7/6).

Palmer menegaskan, setelah tinjauan yang mendalam, pihaknya menyimpulkan bahwa meskipun proyek tersebut bisa mendukung pengembangan bisnis untuk skala yang lebih besar, BHP Billiton memiliki berbagai pilihan pertumbuhan lainnya dalam portofolio yang lebih menarik pada masa depan.

IndoMet Coal merupakan proyek yang terdiri atas tujuh kontrak karya batubara yang berlokasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Adapun, Tambang Haju, yang terletak di kawasan Lahai Coal Kontrak Karya, memiliki kapasitas produksi satu juta ton batubara per tahun dan telah berproduksi sejak 2015.

Sebagai informasi, sejak 2010, Adaro telah mengantungi 25% saham IndoMet Coal. Dengan pembelian 75% saham milik BHP Billiton, berarti Adaro bakal menguasai 100% saham IndoMet Coal.

Dalam siaran resmi tidak disebutkan nilai akuisisi IndoMet Coal. Namun, berdasarkan laporan MarketWatch, sumber yang mengetahui transaksi tersebut menyebutkan bahwa nilai akuisisi mencapai US$ 120 juta. Namun, hingga berita ini diturunkan, Direktur Utama Adaro Energy Garibaldi Thohir tidak dapat dikonfirmasi oleh Investor Daily.

Proyek PLTU
Sementara itu, Adaro menargetkan penyelesaian financial closing untuk proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Kalimantan Selatan senilai US$ 500 juta pada Juni tahun ini. Penuntasan financial closing proyek di Kalimantan Selatan tersebut berdekatan dengan financial closing PLTU batubara.

Perseroan menjajaki pinjaman sebesar US$ 400 juta dari sejumlah bank. Jumlah tersebut setara dengan 80% dari total nilai proyek. Nantinya, sebanyak 95% pinjaman akan dijamin oleh Korea Trade Insurance Corporation (K-Sure).

Direktur Keuangan Adaro Energy David Tendian pernah mengatakan, perseroan menginginkan financial closing dua proyek pembangkit listrik tersebut tuntas tahun ini. Seperti diketahui, proses negosiasi financial closing kedua proyek tersebut sudah berlangsung sejak tahun lalu. "Financial closing proyek Kalsel ditargetkan rampung pada Juni," kata David kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Apabila sesuai rencana tahun lalu, perjanjian itu mencakup pinjaman sebesar US$ 400 juta dengan tenor 20 tahun, yang dijamin 95% oleh K-Sure. Lima bank, yaitu DBS, MUFG, HSBC, Mizuho, dan SMBC akan menyediakan pinjaman sindikasi tersebut, dengan bunga di bawah 200 basis poin di atas Libor. Sedangkan Korea Development Bank akan menyediakan sisanya sebesar US$ 140 juta.

Adapun pembangkit listrik yang berlokasi di Kalimantan Selatan tersebut berkapasitas 2x100 megawatt (MW). Adaro menguasai 65% saham PT Tanjung Power Indonesia selaku pengelola. Sedangkan Korea East-West Power memiliki 35% saham melalui anak usahanya, EWP. Adaro dan Korea East-West Power telah menandatangani perjanjian penjualan listrik dengan PLN selama 25 tahun.

Harga Saham Melonjak
Kalangan analis menilai, Adaro Energy masih menghadapi tantangan, seiring belum membaiknya harga jual batubara di pasar global. Sedangkan penurunan biaya penambangan (cash cost) batubara diharapkan menjadi faktor positif terhadap kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Danareksa Sekuritas memperkirakan biaya penambangan batubara Adaro di luar royalti berkisar US$ 26-28 per ton tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu sekitar US$ per 28 ton. Sedangkan rasio nisbah kupas konsolidasi (stripping ratio) dari tambang-tambang Adaro diproyeksikan turun dari 5,2 kali menjadi 4,7 kali tahun ini.

"Kami memperkirakan harga jual batubara tetap menghadapi tantangan tahun ini. Sedangkan biaya penambangan batubara perseroan diharapkan turun tipis tahun ini," ungkap analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya.

Terkait volume produksi batubara Adaro, Stefanus menjelaskan bahwa hal itu berpotensi naik tipis dari 51,5 juta ton pada 2015 menjadi sekitar 52-54 juta ton tahun ini. Sementara itu, pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham perseroan berkode ADRO ditutup melonjak Rp 70 (8,3%) pada harga Rp 910.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon