Dugaan Pembunuhan di Sumba Barat Daya, NTT
Kematian Anak Direkayasa, Ibu Korban Mengadu ke Tiga Lembaga Negara
Sabtu, 11 Juni 2016 | 09:17 WIB
Jakarta – Hadijah Usman (54), ibu korban dari Iyeck Nanda Saputra yang diduga dibunuh di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadu ke tiga lembaga negara di Jakarta. Pengaduan untuk mencari keadilan karena korban dianggap mengalami kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Padahal, sejumlah bukti dan hasil otopsi menunjukkan anak ketiga dari Hadijah tersebut diduga kuat telah dianiaya dan dibunuh. Sayangnya, jajaran kepolisian di Polres Sumba Barat (Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, dan Kabupaten Sumba Tengah) yang menangani kasus ini justru terkesan mengarahkan bahwa kasus ini sebatas kecelakaan lalu lintas murni.
Menurut Hadijah, ketiga lembaga negara yang didatangi tersebut adalah Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ombudsman Republik Indonesia (ORI), dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). "Anak kami diduga telah dibunuh pada 22 Januari 2014 lalu. Bukti-bukti dan hasil otopsi sudah menguatkan dugaan tersebut sehingga kami perlu tindak lanjut atas kasus tersebut," kata Hadijah di Jakarta, Jumat (10/6).
Hadijah menjelaskan, Iyeck dikabarkan meninggal karena kecelakaan dan dilarikan ke Rumah Sakit Karitas Weetebula, Sumba Barat. Saat itu ditemukan luka-luka di sekujur tubuh, seperti luka robek memanjang di bawah dagu, kedua mata biru lebam, tulang hidung patah, otak kecil (bagian belakang kepala) lembek, lima gigih lepas, tangan kiri patah, dan dua buah goresan panjang di dada. Dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) Polres Sumba Barat, Iyeck dinilai mengalami kecelakaan. Namun, Hadijah dan keluarga besarnya tetap berkeyakinan bahwa Iyeck dibunuh.
"Hal ini diperkuat dengan hasil otopsi dokter ahli forensik dari Tim Forensik Kedokteran Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah bahwa Iyeck meninggal karena pendarahan, kekerasan benda tumpul, dan penganiayaan. Selain itu, ada beberapa kejanggalan selama kami mencari fakta dan kebenaran bahwa anak kami dibunuh," ujar Hadijah yang bersama salah satu menantunya datang secara khusus ke Jakarta sejak pekan lalu.
Hadijah didampingi Pelayanan Advokasi Untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia dan Aliansi Masyarakat Nasional (Aman) Flobamora telah mengadukan hal tersebut ke Komnas HAM, ORI, dan Kompolnas. "Kami berharap ketiga lembaga tersebut bisa segera terlibat membantu dan memperjelas kasus yang sengaja direkayasa atau dikaburkan ini," ujarnya.
Koordinator AMAN Flobamora Kristoforus Watu Pati mengatakan pihaknya akan terus mengawal dan mendesak agar bisa mengungkapkan fakta yang terjadi. Aman Flobamora dan Padma Indonesia menilai kejelasan kasus ini sangat penting untuk menegakkan keadilan bagi korban.
"Banyak masyarakat yang masih tidak berdaya ketika dihadapkan pada kekuasaan dan hukum yang selalu direkayasa. Fenomena seperti ini masih marak di Sumba Barat Daya dan juga Nusa Tenggara Timur pada umumnya," kata Roy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




