5 Kebaikan Cinta untuk Kesehatan
Rabu, 14 Maret 2012 | 20:38 WIB
Sehat untuk mental dan fisik.
Saat Anda terlibat dalam hubungan cinta yang menyenangkan dan berkomitmen, ternyata hal itu memiliki efek baik untuk fisik. Berikut ini 5 kebaikan hubungan romantis bagi kesehatan:
* Kurangi masalah mental
Pasangan yang terlibat dalam hubungan cinta berkomitmen, risiko terkena masalah mental pun berkurang. Ini adalah hasil penelitian studi yang dilakukan di Florida State University, Amerika Serikat tahun 2010 terhadap 1.621 mahasiswa.
Studi menunjukkan, mereka yang berada dalam hubungan tak berkomitmen justru memiliki masalah kesehatan fisik dan mental.
Dibanding dengan pasangan yang ada dalam hubungan, lelaki dan perempuan yang melajang cenderung memiliki tingkat depresi, kekhawatiran, masalah mood, serta kecenderungan bunuh diri yang lebih tinggi. Ini adalah laporan yang dituliskan di jurnal American Journal of Psychology.
* Redakan rasa sakit
Studi 2010 yang dipublikasikan PLoS One memeriksa hubungan antara kelegaan rasa sakit, perasaan cinta romantis, dan perasaan kepuasan pada sistem otak.
Riset tersebut merupakan hasil dari penelitian terhadap 15 mahasiswa yang sedang sangat jatuh cinta. Para responden ini kemudian diberikan tantangan dengan diberikan beban menyakitkan pada tangannya, kemudian dihitung ketahanaannya.
Hasilnya, saat diberikan tantangan menyakitkan sambil melihat foto kekasihnya, daya tahan lelaki yang menjadi responden ini 44,7 persen meningkat.
* Mengurangi stres
Status hubungan sebuah pasangan ternyata memengaruhi level produksi hormon stres, kortisol, seseorang saat ia berada dalam keadaan yang menekan, kata hasil penelitian gabungan antara University of Chicago dan Northwestern University, Amerika Serikat.
Sementara, studi yang dilansir jurnal Family Psychology mengatakan, perempuan dengan pasangan yang sangat suportif lebih mampu menghadapi tekanan dalam hubungan. Pasangan yang berada dalam hubungan memuaskan juga dengan sukarela hadir untuk pasangannya setiap saat dibutuhkan.
* Panjang umur
Biro sensus amerika Serikat terhadap 281.460 warga dengan usia di atas 45 tahun mengungkap, mereka yang melajang di atas usia itu banyak yang mengalami penyakit mematikan dibanding yang berada dalam hubungan berkomitmen. Hasil riset yang sama juga ditemukan di Inggris, Swedia, Denmark, dan Belanda.
Studi yang dipublikasikan oleh University of Pennsylvania menemukan, berada dalam hubungan pernikahan yang langgeng akan membuat seseorang panjang umur bagi lelaki dengan pendapatan rendah sekali pun.
Meski datanya masih perlu digali, karena para peneliti menilai, masih sulit untuk melihat efek kausal dari status menikah dengan data penelitian. Karena ada kemungkinan pasangan yang menikah, meski sudah pernah bercerai, memiliki hubungan suportif sosial dan anak-anak yang menstimulasi hubungan keluarga yang harmonis ketimbang lajang, yang bisa saja membantu memperpanjang usia dan kepuasan hidup.
* Bahagia
Imej otak dari hasil pindai fMRI mengatakan, masa awal percintaan bisa mengaktivasi area pada otak yang kaya dopamin, menurut studi yang dilansir di Journal of Neurophysiology.
Area-area ini erat kaitannya dengan rasa dihargai, perasaan cinta, adiksi, dan euforia. Faktanya, salah satu area ini bertanggung jawab memengaruhi pemikiran obsesif, kognisi, dan emosi, yakni karakter-karakter yang berhubungan dengan cinta.
Menariknya, menurut para peneliti, hasil pindai rasa cinta berbeda dengan hasil pindai otak saat terangsang secara seksual.
Saat Anda terlibat dalam hubungan cinta yang menyenangkan dan berkomitmen, ternyata hal itu memiliki efek baik untuk fisik. Berikut ini 5 kebaikan hubungan romantis bagi kesehatan:
* Kurangi masalah mental
Pasangan yang terlibat dalam hubungan cinta berkomitmen, risiko terkena masalah mental pun berkurang. Ini adalah hasil penelitian studi yang dilakukan di Florida State University, Amerika Serikat tahun 2010 terhadap 1.621 mahasiswa.
Studi menunjukkan, mereka yang berada dalam hubungan tak berkomitmen justru memiliki masalah kesehatan fisik dan mental.
Dibanding dengan pasangan yang ada dalam hubungan, lelaki dan perempuan yang melajang cenderung memiliki tingkat depresi, kekhawatiran, masalah mood, serta kecenderungan bunuh diri yang lebih tinggi. Ini adalah laporan yang dituliskan di jurnal American Journal of Psychology.
* Redakan rasa sakit
Studi 2010 yang dipublikasikan PLoS One memeriksa hubungan antara kelegaan rasa sakit, perasaan cinta romantis, dan perasaan kepuasan pada sistem otak.
Riset tersebut merupakan hasil dari penelitian terhadap 15 mahasiswa yang sedang sangat jatuh cinta. Para responden ini kemudian diberikan tantangan dengan diberikan beban menyakitkan pada tangannya, kemudian dihitung ketahanaannya.
Hasilnya, saat diberikan tantangan menyakitkan sambil melihat foto kekasihnya, daya tahan lelaki yang menjadi responden ini 44,7 persen meningkat.
* Mengurangi stres
Status hubungan sebuah pasangan ternyata memengaruhi level produksi hormon stres, kortisol, seseorang saat ia berada dalam keadaan yang menekan, kata hasil penelitian gabungan antara University of Chicago dan Northwestern University, Amerika Serikat.
Sementara, studi yang dilansir jurnal Family Psychology mengatakan, perempuan dengan pasangan yang sangat suportif lebih mampu menghadapi tekanan dalam hubungan. Pasangan yang berada dalam hubungan memuaskan juga dengan sukarela hadir untuk pasangannya setiap saat dibutuhkan.
* Panjang umur
Biro sensus amerika Serikat terhadap 281.460 warga dengan usia di atas 45 tahun mengungkap, mereka yang melajang di atas usia itu banyak yang mengalami penyakit mematikan dibanding yang berada dalam hubungan berkomitmen. Hasil riset yang sama juga ditemukan di Inggris, Swedia, Denmark, dan Belanda.
Studi yang dipublikasikan oleh University of Pennsylvania menemukan, berada dalam hubungan pernikahan yang langgeng akan membuat seseorang panjang umur bagi lelaki dengan pendapatan rendah sekali pun.
Meski datanya masih perlu digali, karena para peneliti menilai, masih sulit untuk melihat efek kausal dari status menikah dengan data penelitian. Karena ada kemungkinan pasangan yang menikah, meski sudah pernah bercerai, memiliki hubungan suportif sosial dan anak-anak yang menstimulasi hubungan keluarga yang harmonis ketimbang lajang, yang bisa saja membantu memperpanjang usia dan kepuasan hidup.
* Bahagia
Imej otak dari hasil pindai fMRI mengatakan, masa awal percintaan bisa mengaktivasi area pada otak yang kaya dopamin, menurut studi yang dilansir di Journal of Neurophysiology.
Area-area ini erat kaitannya dengan rasa dihargai, perasaan cinta, adiksi, dan euforia. Faktanya, salah satu area ini bertanggung jawab memengaruhi pemikiran obsesif, kognisi, dan emosi, yakni karakter-karakter yang berhubungan dengan cinta.
Menariknya, menurut para peneliti, hasil pindai rasa cinta berbeda dengan hasil pindai otak saat terangsang secara seksual.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




