Mochtar Riady Ingin Malang Lebih Maju

Selasa, 14 Juni 2016 | 10:48 WIB
AB
AB
Penulis: Anselmus Bata | Editor: AB
Mochtar Riady.
Mochtar Riady. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Malang - Founder Lippo Group Mochtar Riady merasa sangat beruntung, sekaligus berutang budi pada kota yang membesarkannya, yakni Kota Malang, Jawa Timur. Meski saat masih anak-anak hidupnya susah, kecintaannya pada Malang tak pernah luntur. Oleh karena itu, setelah menjadi pengusaha sukses, Mochtar Riady tak pernah berhenti berkontribusi untuk membuat Malang lebih maju.

Hal tersebut disampaikan Mochtar Riady ketika memberikan keynote speech berjudul "Dari Malang Kembali ke Malang" pada peresmian perluasan bisnis First Media di Malang, Senin (13/6), yang disiarkan Berita Satu News Channel. 

Mochtar berkisah pada waktu kecil ayahnya mengatakan Kota Malang sungguh indah, namun kota ini belum begitu maju. Oleh karena itu, Mochtar termotivasi untuk lebih memajukan Malang.

Kenangan pada orangtuanya membuat Mochtar membawa cucunya, Henry Riady dan cicitnya, untuk melihat rumah di Jalan Pecinan 131 Malang. Kondisi rumah dan wilayah sekitar masih tetap dan tidak berubah.

"Saya betul-betul bahagia, walaupuan saya dilahirkan di Batu dan dibesarkan di Malang di dalam toko dengan lebar tiga meter dan panjang 17 meter. Malang memberikan saya pendidikan yang baik dan saya diberi kesempatan hidup yang indah. Saya bisa berhasil karena Malang. Malang merupakan Tanah Air yang sungguh berarti bagi saya. Malang begitu penting dalam kehidupan saya," tutur Mochtar.

Pada kesempatan itu, Mochtar berkisah tentang dirinya yang sudah ditinggal ibu tercinta saat masih berusia sembilan tahun.

"Ibu saya meninggal dunia usia 40 tahun karena kesulitan melahirkan adik saya. Kalau saat itu di Batu ada rumah sakit, pasti ibu saya tidak mengalami nasib begitu susah. Usia sembila tahun, saya tidak memiliki ibu. Saya dibesarkan dan dibina ayah saya," kata Mochtar.

Karena tidak punya ibu, lanjutnya, pakaian yang dipakainya tidak seperti teman-teman lain yang mempunyai ibu dan memiliki uang.

Mochtar juga bercerita setiap hari mendapat uang jajan satu sen, sementara harga sebungkus nasi 2,5 sen. Oleh karena itu, Mochtar harus mengumpulkan uang jajan selama tiga hari untuk membeli sebungkus nasi, sementara teman-temannya bisa makan dua bungkus nasi dalam sehari.

Kondisi tersebut juga membuat Mochtar selalu menolak ajakan makan dari teman-temannya, karena merasa tidak sanggup membalasnya karena uang jajan yang sangat minim.

"Semua itu walaupun tidak menyenangkan, namun saya merasa tetap berbahagia. Saya mendapat pendidikan yang baik dan saya bisa seperti sekarang ini, semuanya karena Malang," ujar Mochtar.

Lihat Videonya di Sini:

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon