Bidik 2,3 Juta Wisatawan Tiongkok, Asita Gandeng CNTA dan CTA
Selasa, 14 Juni 2016 | 22:51 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia terus menggenjot jumlah kehadiran wisatawan Tiongkok lebih banyak. Karenanya, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) ikut memperkuat jaringan di negeri Tirai Bambu tersebut.
Pertemuan Asita dengan pihak China National Tourism Administration (CNTA), dan China Tourism Association (CTA), di Beijing pada awal Juni 2016 lalu, diharapkan mampu menjadi pendongkrak kedatangan wisatawan Tiongkok.
Anggota Komite China DPP Asita, Hery Sudiarto, mengatakan, dengan adanya pertemuan itu sudah disepakati beberapa regulasi khusus yang memudahkan wisawatan asal Tiongkok untuk datang dan berkunjung ke Indonesia. Diharapkan, lanjut dia, jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok bisa meningkat.
"Kita baru saja pulang dari Beijing beberapa waktu lalu untuk berunding dengan CNTA dan CTA. Disana, kita mencoba berunding tentang bagaimana memperbaiki proses tata niaga yang selama ini terkendala. Dengan pertemuan itu, kita berharap kedepan jumlah kunjungan wisatawan dari Tiongkok bisa meningkat," kata Hery melalui sambungan telepon, Selasa (14/6).

Dalam pertemuan, kata dia, pihak Kementerian Pariwisata (Kempar) dan Asita meyakini target kunjungan wisatawan asal Tiongkok tahun ini bisa meningkat sampai 2,3 juta kunjungan.
"Pertemuan ini merupakan wujud bukti kongkrit kolaborasi dan sinergitas antara Pemerintah dan industri pariwisata. Karenanya, diharapkan menghasilkan terobosan-terobosan sehingga selain target jumlah kunjungan wisatawan tercapai, iklim tata niaga pun menjadi kondusif. Dengan perubahan regulasi ini, kami yakin jumlah wisatawan asal Tiongkok bisa sesuai target menjadi 2,3 juta kunjungan di akhir tahun ini," sambungnya.
Hery berharap, kalangan travel agent di Indonesia mampu bersinergi dan bekerja sama dengan biro perjalanan yang ada di Tiongkok. Peran pemerintah, kata dia, diharapkan mampu menyiapkan para pemandu wisata yang bisa berbahasa Mandarin agar saat berkunjug ke Indonesia, wisatawan asal Tiongkok bisa beradaptasi dengan kondisi di Indonesia.
"Online Travel Agent (OTA) saat ini telah menjadi tren pasar yang tidak terbendung. Oleh sebab itu, kami mendorong OTA maupun travel agent konvensional agar bekerja sama dengan sesama travel agent yang berlisensi dan legal di Tiongkok, sambil Pemerintah menyiapkan sumberdaya touris guide (pemandu wisata) yang paham dengan bahasa Mandarin. Kalau ini bisa terlaksana dengan baik, bukan tidak mungkin wisatawan asal Tiongkok akan banyak yang datang ke Indonesia," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




