Jelang Protes Buruh, Polisi Paris Siaga Penuh
Jumat, 24 Juni 2016 | 00:08 WIB
Paris – Polisi anti-huru hara Paris terlihat berkumpul di kawasan Bastille, Kamis (26/3), bersamaan dengan para demonstran yang berkerumun untuk menggelar aksi protes menentang reformasi tenaga kerja yang memperlihatkan aksi kekerasan berulang.
Sedangkan Presiden Prancis, Francois Hollande berjanji bahwa pemerintahan Sosialisnya akan melanjutkan pemberlakuan reformasi itu.
Sementara itu, kendaraan-kendaraan lapis baja terparkir menghalangi jalan-jalan yang mengarah ke Place de la Bastille, lokasi yang menjadi tempat penyelenggaraan protes yang dijadwalkan mulai pukul 14.00 waktu setempat.
Sebelumnya aksi protes sempat dilarang dengan alasan keamanan, namun dengan negosiasi sengit akhirnya aksi tersebut mendapat lampu hijau.
Ancaman larangan protes itu adalah yang pertama kali terjadi dalam 54 tahun dan semakin memperdalam jurang permusuhan antara pemerintah dengan serikat pekerja – di mana mereka menuding Hollande dan Perdana Menteri (PM) Manuel Valls mencemooh nilai-nilai demokrasi.
Menurut Eric Coquerel dari Partai Kiri Prancis, Kamis, dalam demokrasi normal, Manuel Valls akan mengundurkan diri setelah dukungan lantang perdana menteri terhadap pelarangan itu.
Valls pun memperingatkan aksi kekerasan baru ini tidak akan ditoleransi setelah protes terakhir, 14 Juni 2016. Pasalnya, pada saat itu, protes buruh berujung pada bentrokan berdarah dalam 4 hari terakhir jelang dimulainya turnamen pertandingan sepak bola Euro 2016 yang diselenggarakan di Prancis.
Alhasil, dua polisi dirawat di rumah sakit, sedangkan 26 orang lainnya luka-luka.
Untuk mencegah insiden berulang, Kepala Kepolisian Michel Cadot, Rabu (22/6) menyampaikan telah mengerahkan lebih dari 2.000 polisi untuk menangani barisan protes, dan aada sekitar 100 orang yang dilarang ikut serta.
Selain itu, lanjut dia, untuk mencegah korban luka maupun tewas dari kedua belah pihak, pihak kepolisian akan menyaring dan menggeledah para demonstran yang diduga membawa senjata atau barang-barang untuk menyamarkan diri.
Pekan lalu, para demonstran bertopeng menghancurkan bagian depan pertokoan dan menyerang rumah sakit anak-anak, menghancurkan beberapa jendelanya. Sedangkan lainnya menembakkan peluru ke arah polisi, sehingga membuat puluhan orang lain ditangkap.
Di sisi lain, Serikat Solidaires, pada Kamis, mengecam keputusan untuk melengkapi polisi dengan granat kejut. Dalam pernyataan serikat, alat itu telah menyebabkan ratusan orang luka-luka.
Sebelumnya, serikat memprotes serangkaian reformasi bursa tenaga kerja yang dipaksakan oleh Valls melalui parlemen pada Mei, untuk mengindari pemungutan suara. Bahkan setelah undang-undang (UU) telah dilemahkan secara signifikan.
Akan tetapi, setelah lebih dari tiga bulan menggelar protes dan aksi mogok menentang UU, belum ada pihak yang mau mengalah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




