Keluarga Korban Vaksin Palsu RSIA Sayang Bunda Tuntut Ganti Rugi Uang
Senin, 18 Juli 2016 | 20:43 WIB
Bekasi - Ratusan orangtua korban vaksin palsu meminta uang ganti rugi kepada Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Sayang Bunda, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (18/7) siang. Mereka sudah tidak percaya melakukan vaksinasi ulang di rumah sakit tersebut.
"Anak saya sudah tiga kali vaksin di RSIA Sayang Bunda. Sekali vaksin biayanya mencapai Rp 750.000. Lebih baik minta ganti uang daripada divaksinasi ulang," ujar orangtua korban, Naenah (25) di RSIA Sayang Bunda, Senin (18/7).
Menurutnya, anaknya bernama Adnan (6 bulan), tidak akan divaksinasi di rumah sakit tersebut setelah terungkapnya kasus penggunaan vaksin palsu sejak Mei 2014 lalu.
"Pastinya, para orangtua sudah tidak percaya lagi vaksin di tempat ini. Lebih baik saya vaksin di Puskesmas atau Posyandu," ujarnya.
Saat ditanyakan, berapa besar jumlah ganti rugi yang diminta kepada RSIA Sayang Bunda, ia enggan menjelaskan.
"Kuasa hukum para orangtua korban, Teja Yulianto, sedang menyusun butir kesepakatan yang akan diminta warga. Tanya saja dengan Pak Teja," ujarnya.
Naenah yang berdomisili di Griya Asri, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, mengaku sejak Desember 2015 lalu, anaknya divaksin di RSIA Sayang Bunda.
Sementara itu, pihak RSIA Sayang Bunda, belum menanggapi permintaan keluarga korban vaksin palsu ini. Rumah sakit tetap menjalankan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan untuk memberikan data pasien yang terpapar vaksin palsu.
"Kami tetap menjalankan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan untuk melakukan vaksin ulang," ujar Direktur RSIA Sayang Bunda, Teguh Nurwanto.
Dia menjelaskan, belum terpikir untuk membayarkan ganti rugi uang sesuai permintaan keluarga korban. Hari ini, RSIA Sayang Bunda telah melakukan imunisasi ulang kepada 21 anak yang telah terverifikasi oleh Satgas Penangggulangan Vaksin Palsu Kementerian Kesehatan.
"Nama-nama yang akan diimunisasi ulang berikutnya, akan dilakukan pada esok hari, setelah ada verifikasi dari Satgas Penanganan Vaksin Palsu Kementerian Kesehatan," ujar Teguh.
Menurut Teguh, RSIA Sayang Bunda akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap penggunaan vaksin palsu, dalam hal ini pemberian vaksinasi ulang.
"Kami dari RSIA Sayang Bunda akan bertanggung jawab dan data anak-anak yang akan diimuniasasi ulang sudah kami berikan. Selanjutnya, menunggu verifikasi Satgas Penanganan Vaksin Palsu. Penggunaan vaksin palsu di rumah sakit terjadi sejak Mei 2014 lalu," ujarnya.
Sedangkan, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi, Alamsyah, meminta masyarakat untuk tenang sambil menunggu verifikasi dari Satgas Kementerian Kesehatan untuk melakukan vaksinasi ulang.
"Kami meminta kepada masyarakat untuk tenang. Tidak ada niat kesengajaan (memberikan vaksin palsu). Kami telah proaktif untuk menyelesaikan permasalahan ini," ujar Alamsyah dihadapan ratusan keluarga korban vaksin palsu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




