Pitek Lanang, Sensasi Pedesaan di Jantung Kota Pekanbaru
Selasa, 19 Juli 2016 | 23:28 WIB
Jika Anda pergi ke Pekanbaru, Riau, rasanya tidak lengkap jika tidak mampir dan mencicipi sajian Pitek Lanang. Begitu memasuki restoran dan kafe ini, Anda akan menjumpai suasana yang romantis dan serasa di alam pedesaan.
"Kami memang ingin menghadirkan suasana alam pedesaan. Di Pekanbaru, saya rasa hanya di Pitek Lanang yang suasananya seperti ini. Di luar kota, memang ada. Tetapi yang di tengah kota, ya hanya di Pitek Lanang," kata pemilik resto, Menas Purwoko.
Letak resto ini memang di tengah kota, tepatnya di Jalan Wahid Hasyim. Tempatnya cukup luas, karena berdiri di atas lahan seluas 2.000 meter persegi. Mendengar nama restoran yang berada tidak jauh dari Masjid Agung Pekanbaru ini, sepertinya berbau Jawa.
Menurutnya, mencari nama, memang gampang-gampang susah. Dia sempat kebingungan menamai restonya. "Sio saya kan ayam. Kalau ayam atau jago kan biasa saja. Harus unik, dan agak nakal sedikit. Makanya, saya beri nama pitek (pitik, ayam). Jika ditulis pitik, orang sini membacanya pitik, kalau orang Jawa baca pitik jadi pitek. Biar tetap diucapkan pitek, saya tulis pitek. Maka, diberi nama Pitek Lanang (ayam laki-laki), karena saya laki-laki," kata Menas sambil tertawa.
Menas, pensiunan pegawai bank ini, memang berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Lingkungan sekitar Pitek Lanang adalah hotel dan perkantoran. "Saya suka lingkungan di sini, jika sudah masuk restoran, tidak seperti di tengah kota. Saya beberapa kali ke sini. Harganya juga tidak mahal, dan makanannya berbagai macam," ujar Heri, warga Pekanbaru.
Selain disuguhi makanan yang beragam, pengunjung juga dihibur oleh berbagai macam live music setiap hari. "Karena saya orang Jawa, maka saya suka masakan jawa dan yang paling enak di sini, saya kira ayam jontor. Luar biasa pedas," ujar karyawan swasta ini.
Suasana pedesaan lengkap dengan kolam ikan dan air mancur membuat pengunjung menjadi tenteram. Beberapa saung berdiri kokoh di berbagai sudut Pitek Lanang. Beberapa ornamen, seperti kain kotak putih hitam khas Bali, juga menghiasi beberapa sudut. Sepeda dan motor tua juga dipajang. Di dalam restoran itu ada beberapa pohon peneduh.
"Ada 105 macam menu makanan, mulai tradisional, eropa, chinese, tradisional dan internasional lainnya. Jumlah minumannya ada 60 macam," kata Menas, seraya mengatakan, dengan membawa Rp 25.000 pengunjung sudah dapat makan dan minum di restonya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




