Wisatawan Republik Cheska Terus Didorong ke Indonesia

Rabu, 20 Juli 2016 | 07:15 WIB
PD
AB
Penulis: Primus Dorimulu | Editor: AB
Aulia Rahman.
Aulia Rahman. (B1/Primus Dorimulu)

Praha - Dengan pendapatan per kapita US$ 18.500 dan hubungan kedua negara yang cukup baik, warga Republik Cheska berpotensi besar untuk mengunjungi Indonesia sebagai wisatawan. Perbaikan infrastruktur dan promosi yang terus-menerus akan meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) asal Republik Cheska ke Indonesia.

"Selama ini, warga Republik Cheska baru mengenal Bali, padahal Indonesia memiliki banyak daerah tujuan wisata yang menarik," kata Dubes Indonesia untuk Republik Cheska, Aulia A Rahman kepada pers Indonesia akhir pekan lalu.

Sebagai wakil Pemerintah Indonesia di Republik Cheska, ia akan terus berusaha menyukseskan program pemerintah. Selain pariwisata, pemerintahan Jokowi juga tengah mendorong kemajuan industri dan pembangunan infrastruktur.

Bekerja sama dengan Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, kata Aulia, KBRI di Praha pada 19-22 Februari 2015, berpartisipasi dalam pameran pariwsiata terbesar di Eropa Tengah, Holiday World. Pameran yang sama juga diikuti Indonesia pada tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Pada 2016, pavilun Indonesia meraih predikat terbaik setelah Tiongkok. Aulia mengajak dua biro perjalanan asal Republik Cheska yang biasa menyediakan paket perjalanan wisata ke Bali, Sea Lady dan Aqya Travel, untuk melihat destinasi lain di Indonesia.

Suasana Kota Praha.

Wali Kota Batu, demikian Aulia, menyampaikan keinginannya untuk menjalin hubungan lebih erat dengan Karlovy Vary, sebuah kota wisata berjarak 181 km dari Praha, ibu kota Republik Cheska. Selain mewarisi arsitektur masa lalu seperti halnya Praha, kota yang didirikan pada 1370, pada masa Kekaisaran Romawi ini juga menyediakan akomodasi dan atraksi modern. Wali kota Batu berencana menjadikan kotanya sebagai sister city dari Karlovy Vary.

Berpenduduk 10,5 juta dan PDB per kapita US$ 18.500 (PDB per kapita berdasarkan purchasing power parity/PPP sebesar US$ 32.000), Republik Cheska termasuk negara maju dan sejahtera. Sebagian tenaga kerja pabrik dan sektor jasa berasal dari sejumlah negara Eropa Timur. Selain industri dan jasa perdagangan, sektor pariwisata merupakan penghela ekonomi negara bekas sekutu Uni Soviet ini.

Pada 2015, Republik Cheska dikunjungi oleh 8,6 juta wisman dengan masa tinggal lebih dari sehari. Jika dihitung dengan turis yang hanya menginap semalam, total wisman tahun yang sama mencapai 27,8 juta. Pada 2014, Prancis menempati peringkat teratas sebagai negara yang paling banyak dikunjungi, menyusul AS 74,8 juta, Spanyol 65 juta, Tiongkok 55 juta, Italia 48,6 juta, Turki 39,8 juta, Jerman 39,8 juta, dan Inggris 32,6 juta.

Di Asia Tenggara, Malaysia menempati peringkat teratas, 27,4 juta, diikuti Thailand 24,7 juta. Indonesia pada tahun yang sama dikunjungi 9,4 juta wisman.

Kerja Sama Berbagai Bidang
Meski kecil, kata Aulia, Republik Cheska adalah negara dengan berperadaban tinggi dengan masa lalu yang gemilang di bidang teknologi dan kebudayaan. Pada masa kejayaan Uni Soviet, sewaktu masih bernama Republik Cekoslowakia, senjata Soviet diproduksi di Republik Cheska. Saat ini, Republik Cheska masih merawat pabrik senjata CZ, peralatan tempur Tatra Trucks, dan pabrik trem Skoda. Republik Cheska bersedia membantu Indonesia mengembangkan berbagai peralatan senjata, baik senjata ringan maupun senjata berat.

Sepatu Bata yang dikenal luas di Indonesia berasal dari negeri ini. Pendiri Bata, Thomas Bata, sudah memperkenalkan produknya ke Jakarta pada 1930. Pada periode tahun 1930-an, Republik Cheska memasok mesin pabrik gula untuk Indonesia. Meski land lock, negara tanpa laut, Republik Cheska mampu memproduksi kapal laut.

"Mereka biasa membuat kapal untuk angkutan sungai," ujar Dubes Aulia Rahman.

Di bidang infrastruktur dan transportasi, Republik Cheska bersedia membantu Indonesia di bidang pengembangan energi listrik berbahan baku sampah, pembangunan pembangkit listrik, dan angkutan LNG serta CNG. Di Praha dan berbagai kota di Republik Cheska, tersedia berbagai moda transportasi, mulai dari bus, trem, kereta, hingga angkutan sungai yang terkelola dengan baik.

Indonesia masih mencatat surplus dalam perdagangan dengan Republik Cheska. Pada 2015, Indonesia mengekspor US$ 269,2 juta ke Republik Cheska. Sedang negara eks Blok Timur itu hanya mengekspor US$ 131,92 juta, atau terdapat surplus US$ 137,37 juta. Namun, dibanding pada 2011 dan tahun-tahun sebelumnya, surplus itu menurun. Pada 2011, surplus perdagangan Indonesia-Republik Cheska US$ 296,96 juta.

Ekspor Indonesia ke Republik Cheska, antara lain, kopi, teh, rempah-rempah, creamer, dan mebel. Sedang ekspor Republik Cheska ke Indonesia, antara lain ketel air, peralatan dan perlengkapan listrik, kimia organik, sendok, dan garpu berbahan metal, peralatan fotografi, dan peralatan terkait reaktor nuklir.

"Republik Cheska tercatat sebagai bangsa yang pada masa lalu pertama kali menempa besi dan mengolah bahan logam lainnya," papar Aulia.

Republik Cheska juga akan bekerja sama dengan Indonesia dalam membangun industri yang mengolah berbagai produk perkebunan, seperti kopi, teh, dan CPO. Negara ini juga akan membuka pasarnya bagi impor CPO yang selama ini diributkan di Uni Eropa. Republik Cheska sudah masuk Uni Eropa, tetapi masih mempertahankan mata uang sendiri.

Kerja sama antara kedua negara juga dilakukan di bidang kebudayaan. Indonesia sudah memberikan beasiswa kepada 193 warga Republik Cheska. Mereka akan menjadi mitra KBRI untuk membantu peningkatan kerja sama Indonesia-Republik Cheska di berbagai bidang. Alumni penerima beasiswa ini aktif bekerja sebagai dosen, seniman, penerjemah, dan pegawai pemerintah.

"Di Republik Cheska, ada dua pusat studi bahasa Indonesia," ungkap Aulia.

Saat ini, banyak investor Republik Cheska yang ingin membangun rumah sakit dan berbagai jenis investasi lainnya di Indonesia. Para pengusaha Republik Cheska, antara lain dibantu oleh orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Republik Cheska. Mereka adalah mahasiswa asal Indonesia yang dikirim Bung Karno tahun 1963-1964. Sejak Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto lahir, mereka dilarang kembali ke Indonesia.

Dubes Aulia Rahman bersama orang Indonesia yang telah menjadi warga negara Republik Cheska.

Hubungan Indonesia-Republik Cheska sudah terjalin sejak era Soekarno. Aulia menjelaskan, sebagian warga Republik Cheska usia di atas 80 tahun sempat mendengar pidato Bung Karno berkunjung ke Praha tahun 1957 dan 1958. Presiden Megawati Soekarnoputri melawat ke Praha tahun 2002. Sejak reformasi, banyak pejabat pemerintah, legislatif dan profesional asal Indonesia yang berkunjung ke Republik Cheska. Pemerintah terus berusaha untuk memperat hubungan kedua negara, antara lain, lewat pembuatan film Surat dari Praha dan Negeri van Oranje.

Saat ini terdapat 220 lebih WNI di Republik Cheska, di antaranya 54 orang anak kewarganegaraan ganda. Sebanyak 21 orang mahasiswa S1, S2, dan S3. Puluhan orang Indonesia yang sudah lebih dari 50 tahun menetap di Republik Cheska memilih menjadi warga negara Republik Cheska dan mendapatkan perlakuan yang baik, termasuk jaminan hari tua dan jaminan kematian.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon