Ini Tuntutan Keluarga Korban Vaksin Palsu RSIA Sayang Bunda Bekasi

Sabtu, 23 Juli 2016 | 09:54 WIB
MN
IC
Penulis: Mikael Niman | Editor: CAH
Kelurga korban vaksin palsu tiap hari mendatangi RSIA Sayang Bunda, Babelan, Kabupaten Bekasi, meminta penjelasan terkait penggunaan vaksin palsu di rumah sakit tersebut.
Kelurga korban vaksin palsu tiap hari mendatangi RSIA Sayang Bunda, Babelan, Kabupaten Bekasi, meminta penjelasan terkait penggunaan vaksin palsu di rumah sakit tersebut. (Suarapembaruan/Mikael Niman)

Bekasi - Keluarga korban vaksin palsu di RSIA Sayang Bunda, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengaku kecewa dengan manajemen rumah sakit.

Pasalnya, hingga saat ini belum ada kejelasan terkait tuntutan dari rumah sakit yang berlokasi di Pondok Ungu Permai, Sektor V itu. Permintaan warga belum direspons oleh pihak rumah sakit.

"Kami masih bermediasi dengan pihak rumah sakit hingga hari ini. Sampai semua permintaan kami dikabulkan rumah sakit," ujar koordinator keluarga korban RSIA Sayang Bunda, Ronisanti, Sabtu (23/7).

Ronisanti yang juga merupakan salah satu keluarga korban vaksin palsu, telah mengumpulkan data anak-anak yang diduga terpapar penggunaan vaksin palsu di rumah sakit itu.

"Saat ini, sudah ada sekitar 219 anak yang kami duga terpapar vaksin palsu sejak 2010 hingga 2016. Jumlah ini sudah kami pilah-pilah dari sekitar 500 anak yang kami data selama periode enam tahun itu," ungkapnya.

Menurut Ronisanti, yang juga Ketua RW 45 Kelurahan Bahagia, selama rentang waktu 2010-2016, belum diketahui kapan RSIA ini menggunakan vaksin palsu. "Kami tidak percaya begitu saja, pernyataan dari rumah sakit. Buktinya apa, tidak bisa dibuktikan kalau belum melakukan pemeriksaan medis (medical check up) terhadap 219 anak itu," ujarnya.

Keluarga korban vaksin palsu menuntut dilakukannya pemeriksaan medis secara gratis terhadap anak-anak yang terpapar vaksin palsu. Lalu, pemberian vaksinasi ulang dilakukan setelah ada hasil  pemeriksaan tersebut.

Kemudian, keluarga korban meminta tanggung jawab terhadap dampak yang terjadi akibat penggunaan vaksin palsu terhadap anak menjadi tanggung jawab RSIA Sayang Bunda. Pihak rumah sakit memberikan jaminan kesehatan/asuransi kepada anak tersebut.

Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan data otentik terkait nota kesepahaman (MoU) dengan penyalur atau distributor vaksin selama periode 2010-2016.

Dan terakhir, biaya pergantian ganti rugi keluarga pasien tidak dipersulit oleh manajemen RSIA Sayang Bunda.

Keluarga korban vaksin palsu di RSIA Sayang Bunda minta dilakukan "medical check up" terhadap putra-putrinya yang diduga menggunakan vaksin palsu.

"Kami mau dilakukan vaksinasi ulang setelah ada hasil 'medical check up' dan didampingi oleh Satgas Penanggulangan Vaksin Palsu dari Kementerian Kesehatan," ujar salah satu keluarga korban, Siti (26).

Dia tidak percaya begitu saja, pernyataan RSIA Sayang Bunda, yang mengungkapkan vaksin palsu jenis Pediacel dan Tripacel yang digunakan di rumah sakit itu.

"Bagaimana dengan vaksin yang lainnya? Kami curiga, selain Pediacel dan Tripacel, vaksin lainnya juga palsu," pungkasnya.

Menanggapi hal itu, manajemen RSIA Sayang Bunda akan melakukan "medical check up" setelah ada instruksi dari Satgas Penanggulangan Vaksin Palsu Kementerian Kesehatan daan Bareskrim Polri.

Dan jawaban lainnya terkait permintaan keluarga korban, RSIA Sayang Bunda, masih menunggu instruksi Kementerian Kesehatan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon