Hari Anak Nasional

Kualitas Kesehatan Anak Indonesia Dinilai Masih Memprihatinkan

Sabtu, 23 Juli 2016 | 13:07 WIB
DM
FH
Penulis: Dina Manafe | Editor: FER
Ilustrasi anak-anak mengenakan baju adat di acara peringatan Hari Kartini.
Ilustrasi anak-anak mengenakan baju adat di acara peringatan Hari Kartini. (NAN/Investor Daily)

Jakarta - Anak-anak Indonesia tengah bergembira karena merayakan Hari Anak Nasional (HAN) hari ini, Sabtu (23/7) di Mataram, NTB. HAN tahun ini diharapkan tidak hanya seremonial, tetapi momentum merefleksikan kondisi yang dihadapi anak Indonesia saat ini, termasuk kualitas kesehatannya yang masih memprihatinkan.

Pengamat kesehatan sekaligus guru besar ilmu gizi Universitas Hasanuddin, Prof Razak Thaha, berharap HAN tidak hanya momentum mengakhiri kekerasan pada anak, tetapi juga memperbaiki kualitas kesehatan mereka. Sebab, menurut Razak, untuk menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas dan berdaya saing sudah harus dipersiapkan sejak masa kanak-kanak. Bahkan kualitas masa depan generasi muda sangat ditentukan dari tumbuh kembang sejak 1000 hari pertama kehidupan, yaitu 9 bulan dalam kandungan hingga usia 2 tahun setelah lahir.

Ironisnya, kata Razak, anak Indonesia masih dilanda masalah kesehatan yang kronik, di antaranya pendek (stunting). Kasus anak stunting di Indonesia hanya turun dari 36,8 persen (2007) menjadi 35,6 persen (2010), tetapi naik lagi di 2013 menjadi 37,2 persen.

Prevalensi stunting ini sejalan dengan kenaikan angka kematian ibu, yang kini masih 359 per 1000 kelhiran hidup. Prevelensi stunting juga berujung pada meningkatnya perevelensi penyakit tidak menular (PTM), seperti stroke, diabetes melitus, jantung, kanker, dan lainnya.

Obesitas pada perempuan Indonesia naik dua kali lipat, dan stroke hampir setengah kali lipat pada 2007 ke 2013. Diabetes melitus di Indonesia menempati urutan tertinggi ke-5 dunia, naik dari sebelumnya 9. PTM yang dulunya hanya diderita keluarga kaya, kini banyak ditemukan pada keluarga miskin.

"Kondisi ini mengindikasikan ada masalah yang tertumpuk yang melibatkan multifaktor. Karena stunting adalah gambaran dari akumulasi masalah mulai dari anak dalam kandungan sampai berumur 2 tahun. Artinya ada masalah besar yang harus diselesaikan secara komprehensif," kata Razak kepada Suara Pembaruan di Jakarta, Sabtu (23/7).

Kondisi ini, kata Razak, juga memberikan gambaran bahwa stunting lahir dari anak keluarga dengan ekonomi lemah. Stunting juga bukan hanya indikator kesehatan atau gizi, tetapi juga masalah sosial, ekonomi, dan politik.

Pertanyannya, kata Razak, berapa besar komitmen politik Pemerintah untuk menyelesakan masalah ini. Begitu banyak kementerian/lembaga yang terkait anak dan gizi beserta anggarannya masing-masing, tetapi belum bersinergi dengan baik untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami anak Indonesia.

"Butuh komitmen lintas sektor, bukan hanya kesehatan. Kalau orang kesehatan kerja dengan benar dan anggaran yang cukup hanya mampu menyelesaikan 30 persen dari masalah kesehatan. Sisanya 70 persen justru di luar kesehatan. Pertanyaannya, sektor lain itu selama sudah melakukan apa," kata Razak.

Menurut Razak, anak yang sudah bermasalah sejak lahir, seluruh persendiannya hingga dewasa akan terganggu. Karena itu, intervensi untuk menstimulasi tumbuh kembangnya selama dua tahun pertama sangat penting baik untuk otak, fisik, dan psikologisnya.

Pada masa perkembangan dari anak ke remaja, stimulasi dalam dunia pendidikan juga penting. Sayangnya, dunia pendidikan hanya menekankan bagaimana anak bisa juara kelas atau mampu bicara bahasa Inggris. Tetapi tidak memberikan kemampuan untuk pengembangan.

Sementara itu, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengatakan, dari sisi kesehatan, peringatan HAN tahun ini merefleksikan masih banyaknya anak Indonesia yang dilahirkan tanpa persiapan.

"Penyebabnya, antara lain karena usia kelahiran pada remaja perempuan usia 15-19 tahun masih tinggi. Selain itu, pemberian ASI eksklusif masih rendah, yaitu hanya sekitar 58 persen, masih jauh dari target Pemerintah 85 persen," kata dia.

Padahal, kata Anung, 1000 hari pertama adalah masa periode menentukan kualitas di masa beranjak dewasa. Itulah mengapa pemenuhan hak dasar anak, termasuk hak pengasuhan, selama masa itu sangat penting.

Secara konseptual, kata Anung, mempersiapkan generasi penerus bangsa dimulai dari merencanakan kehamilan. Saat kehamilan dijaga melalui pemeriksaan kehamilan sesuai standar. Saat persalinan dilakukan di faskes, dan pastikan bayi mendapatkan ASI eksklusif sampai 6 bulan.

"Dari usia 6 bulan sampai 2 tahun anak dipastikan mendapat makanan pendamping ASI, pemantauan tumbuh kembang secara berkala, tidak kekurangan gizi, dan hidup di lingkungan yang baik," jelas dia.

Imunisasi dasar adalah salah satu upaya Kemkes melindungi kesehatan anak guna mempersiapkan mereka menjadi generasi sehat dan produktif. Imunisasi memberikan kekebalan pada anak dari ancaman wabah penyakit, seperti polio, campak, tetanus, hepatitis B, dan lainnya.

"Penyakit-penyakit ini menimbulkan kesakitan, kecacatan bahkan kematian. Hampir semua penyakit yang diimunisasi dalam program imunisasi Pemerintah belum bisa dieliminasi di dunia," kata Anung.

Polio misalnya, sudah bisa dieliminasi di Indonesia, tetapi imunisasinya tidak bisa dihentikan karena di 2-3 negara masih ditemukan virus polio liar. Virus ini masih berpotensi besar menularkan ke negara lain, termasuk Indonesia.

"Sementara campak, tetanus, pertusis dan penyakit lainnya masih ditemukan kasusnya di sejumlah daerah. Itulah mengapa Imunisasi sangat penting bagi anak-anak untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut," tambahnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon