Dituding Terkait Gullen, Sekolah Kesatuan Bangsa Akan Gugat Kedubes Turki

Sabtu, 30 Juli 2016 | 08:20 WIB
FE
WP
Penulis: Fuska Sani Evani | Editor: WBP
Ilustrasi Pendidikan Tinggi
Ilustrasi Pendidikan Tinggi (Istimewa)

Yogyakarta- Disebut-sebut terkait jaringan kelompok Fethullah Gulen atau FETO pascakudeta, Yayasan Kesatuan Bangsa Mandiri yang menaungi SMP-SMA Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berencana menggugat Kedutaan Besar Turki di Indonesia. Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School menilai tudingan tersebut tidak berdasar.

Humas Sekolah Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta, Akhad Iksanudin menegaskan, pihaknya tidak akan ragu melakukan langkah hukum terhadap Kedubes Turki. "Kami merasa dirugikan dan akan menyiapkan tim hukum untuk menggugat Kedubes Turki," katanya pada Jumat (29/7).

FETO merupakan singkatan dari Fethullah Terrorist Organization yang dituding berada dibalik kudeta. Presiden Turki Erdogan menuduh kelompok ini dipimpin oleh Fethullah Gulen.

Sementara Kepala Sekolah SMP SMA Kesatuan Bangsa, Ahmad Nurani menepis tudingan yang menyebutkan adanya afiliasi antara sekolah yang dipimpinnya dengan organisasi teroris di Turki. Sekolahnya berada di bawah naungan yayasan lokal, bukan lembaga asing. Begitu pula dalam pengelolaannya, mengikuti ketentuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Dikatakan, sekolah Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta didirikan tahun 2011 dan diprakarsai Probosutedjo. Sekolah ini memang pernah bekerja sama dengan salah satu yayasan di Turki, namun tahun 2012 kerja sama itu sudah berakhir. "Yayasan di Turki tidak memenuhi syarat yang ditentukan pemerintah RI," katanya.

Meski ada staf pengajar berwarga negara asing, namun setelah kasus Jakarta Internasional School, sekolah ini melakukan pengetatan terhadap guru asing. "Mereka mengajar pun harus sesuai kurikulum di Indonesia. Pelajaran yang tidak sesuai dengan kurikulum nasional tetap dilarang diajarkan," ujar Ahmad Nurani.

Akhad menegaskan, sejak Juni 2015 lalu pihaknya tidak lagi menjalin kerja sama dengan lembaga PASIAD dari Turki. Justru mulai Juni 2016, Kesatuan Bangsa bekerja sama dengan yayasan pendidikan dari Australia, Amity College.

Meski begitu, Ahmad tidak menampik jika ada guru asing di sekolahnya yang ikut aliran kelompok Fethullah Gullen karena di Turki, Gullen merupakan tokoh agama.

Terpisah, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat berada di Yogyakarta juga mengatakan bahwa pemerintah sedang mendalami dan mengkaji bentuk kerja sama antara yayasan di Turki dengan Indonesia. "Jika dengan sekolah umum, maka wewenangnya di bawah Kemdikbud, sementara jika dengan madrasah kewenangan ada di bawah Kemag. Pemerintah Indonesia akan mencermati hal itu, pada saatnya akan sampaikan kebijakan yang akan ditempuh pemerintah," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Kadarmanta Baskara Aji meminta agar pemerintah Indonesia bersikap bijaksana. Sebab jika harus dibubarkan, maka akan berdampak pada siswa sekolah tersebut. "Saya kira, ini harus dipikir masak-masak, jangan mengorbankan siswa," katanya.

Baskara Aji mengatakan, karena status sekolah tersebut merupakan kerja sama dengan pihak asing, maka perizinan berada di tangan Kemdikbud. "Semua materi pembelajaran di sekolah itu, tetap menggunakan kurikulum Indonesia, bahkan dikenai mata pelajaran muatan lokal termasuk Bahasa Jawa," katanya.

Dalam siaran pers diunggah di situs resmi Kedutaan Besar Turki di Jakarta, kesembilan sekolah di Indonesia dituding terkait dengan gerakan Gulen, yakni:

1. Pribadi Bilingual Boarding School, Depok
2. Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung
3. Kharisma Bangsa Bilingual Boarding School, Tangerang Selatan
4. Semesta Bilingual Boarding School, Semarang
5. Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School, Yogjakarta
6. Sragen Bilingual Boarding School, Sragen
7. Fatih Boy’s School, Aceh
8. Fatih Girl’s School, Aceh
9. Banua Bilingual Boarding School, Kalimantan Selatan

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon