TPF Diintervensi, Hendardi: Saya yang Pertama Keluar
Sabtu, 13 Agustus 2016 | 13:37 WIB
Jakarta - Ketua Setara Institute Hendardi yang tergabung sebagai anggota Tim Pencari Fakta Polri untuk menindaklanjuti testimoni Freddy Budiman menyatakan bakal menjadi orang pertama yang keluar jika tim tersebut didikte atau diintervensi. Dia memastikan, tim yang dibentuk untuk bekerja selama sebulan bertekad untuk menyelesaikan kegaduhan buntut dari testimoni yang disebarkan Koordinator Kontras Haris Azhar itu.
"Kalau ada yang mendikte, mengintimidasi, saya yang pertama keluar. Kami punya tekad menyelesaikan masalah ini. Jadi tim ini bukan kosmetik untuk menipu-nipu publik," kata Hendardi, kepada SP, di Jakarta, Sabtu (13/8).
Hendardi, yang beberapa kali tergabung dalam Tim Pencari Fakta Komnas HAM mengatakan, tim yang terdiri dari unsur internal serta eksternal juga membutuhkan laporan dari masyarakat berkaitan dengan pengakuan Freddy, gembong narkoba yang dalam testimoninya mengaku memberi total Rp 90 miliar kepada pejabat tertentu di Mabes Polri.
"Masyarakat bisa memberi informasi melalui hotline di nomor 08818811986 karena kami juga sangat membutuhkan masukan. Kami juga sudah bekerjasama dengan PPATK termasuk Bea Cukai, selain Kontras yang telah membuka posko," katanya.
Hendardi menambahkan, tim telah memeriksa adik Freddy, Johny Suhendra alias Latif Lapas Salemba. Latif dipidana seumur hidup dalam perkara narkotika, kepemilikan 50.000 pil ekstasi. Namun, Hendardi tidak bisa membeberkan hasil dari investigasi yang dilakukan kepada Latif.
"Kami tidak bisa menyebutkan hasilnya karena data-data yang masuk tidak langsung diumumkan namun secara berkala kami mengumumkan langkah-langkah yang telah kami lakukan," ujar Hendardi.
Dirinya menyebut pada pekan depan tim bakal bertolak ke Lapas Nusakambangan, lokasi Freddy bertemu Haris, untuk memastikan ada atau tidaknya orang-orang yang mengetahui pertemuan tersebut termasuk menggali adanya informasi baru berkaitan dengan pokok perkara testimoni Freddy yang disampaikan Haris.
Hendardi mengakui untuk menindaklanjuti testimoni Freddy bukan perkara mudah. Pasalnya, data-data yang ada dalam testimoni tersebut masih sumir karena itu pihaknya perlu berkoordinasi dengan institusi lain seperti BNN, TNI, PPATK, dan Bea Cukai mengingat adanya kemungkinan data yang didapat bertalian dengan temuan dari institusi TNI dan BNN yang telah membentuk tim sendiri.
"Dalam testimoni tersebut tidak menyebut nama, dari berbagai tim investigasi yang saya ikuti, ini kasus yang paling sumir, karena itu kami perlu menyerap banyak informasi dari kanan-kiri, atas-bawah dan kami harapkan hasil dari temuan kami nantinya dapat ditindaklanjuti Polri," kata Hendardi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




