Beli Sepatu, Berhadiah Pasangan Kencan
Rabu, 21 Maret 2012 | 23:58 WIB
Dipertanyakan tapi juga ada yang mendukung.
Sebuah toko sepatu di Kuala Lumpur, Malaysia mencoba cara promosi unik: menawarkan kencan dengan lelaki sebagai hadiah kepada pelanggan yang membeli sepatunya.
Toko bernama Shoes Shoes Shoes ini bekerja sama dengan situs kencan, Lunch Actually, untuk membentuk sistem yang berkesan sama-sama mendapatkan keuntungan ini.
Cara kerjanya, para lelaki yang tertarik mencari pasangan perempuan harus mendaftarkan diri di situs Lunch Actually. Mereka diminta memilih 20 pasang sepatu yang mereka bayangkan pasangan impian mereka akan kenakan. Para lelaki ini kemudian memasang "harga" untuk membayar antara 10-100 persen dari sepatu-sepatu tersebut.
Begitu ada perempuan yang membeli salah satu dari 20 sepatu yang dipilih lelaki tadi di gerai Shoes Shoes Shoes Kuala Lumpur, si perempuan bisa mengecek profil lelaki yang memasang "harga tawaran" untuk membayarkan sepatunya.
Jika sang perempuan tertarik dengan lelaki itu, mereka bisa pergi kencan. Setelah kencan pertama usai, si perempuan akan mendapat "reimburse" dari persentase harga sepatu yang ditentukan si lelaki sejak awal tadi.
Intinya, si perempuan yang ingin beli sepatu, melihat sepatu, melihat profil lelaki yang bersedia memberikan diskon untuk sepatu pilihannya. Si perempuan lalu boleh memutuskan ingin kencan dengan lelaki itu atau tidak. Kalau setuju, mereka akan berkencan, si lelaki akan membayar jumlah harga yang ia tawarkan sejak awal. Setelah kencan dan reimburse itu selesai, sisanya, terserah mereka.
Dalam situsnya, Shoes Shoes Shoes mengatakan, model promosi semacam ini sangat mungkin terjadi di serial komedi romantis ternama, Sex and The City.
"Mengapa duduk dan menunggu Mr Right jatuh dari langit? Pergi dan lakukan apa yang Anda sukai lebih dulu, beli sepatu dan jalani mimpi 'Sex and The City' Anda, lalu biarkan profesional menjalani tugasnya untuk mencarikan pasangan plus kemungkinan diskon 100 persen atas sepatu yang Anda inginkan," begitu promosi di akun Facebook Shoe Dating, mengenai cara pemasaran ini.
Di dalam akun Facebook itu pun Shoes Shoes Shoes memasang beberapa foto promosi, salah satunya bertuliskan, "Now Comes With A Man". Ada pula foto-foto model lelaki sedang berdiri di jendela toko sepatunya, dengan hanya mengenakan celemek plus tanda bertuliskan "Free" di dadanya.
Respon masyarakat mengenai model pemasaran ini cukup beragam. Ada yang mempertanyakan, jika caranya dibalik, misalnya perempuan yang menjadi pembayar sepatu, artinya bentuk perdagangan perempuan. Dari cara kerjanya, kesan prostitusi terselubung memang pekat. Belum lagi kesan si lelaki seakan "membayar" perempuan dengan memberi diskon untuk sepatu yang ia inginkan.
Namun ada pula yang memberikan acungan jempol atas model pemasaran baru ini. Tak sedikit pula kalangan marketing yang memberikan respon atas inovasi pemasaran yang dilakukan Shoes Shoes Shoes dan Lunch Actually ini.
Menurut Anda?
Sebuah toko sepatu di Kuala Lumpur, Malaysia mencoba cara promosi unik: menawarkan kencan dengan lelaki sebagai hadiah kepada pelanggan yang membeli sepatunya.
Toko bernama Shoes Shoes Shoes ini bekerja sama dengan situs kencan, Lunch Actually, untuk membentuk sistem yang berkesan sama-sama mendapatkan keuntungan ini.
Cara kerjanya, para lelaki yang tertarik mencari pasangan perempuan harus mendaftarkan diri di situs Lunch Actually. Mereka diminta memilih 20 pasang sepatu yang mereka bayangkan pasangan impian mereka akan kenakan. Para lelaki ini kemudian memasang "harga" untuk membayar antara 10-100 persen dari sepatu-sepatu tersebut.
Begitu ada perempuan yang membeli salah satu dari 20 sepatu yang dipilih lelaki tadi di gerai Shoes Shoes Shoes Kuala Lumpur, si perempuan bisa mengecek profil lelaki yang memasang "harga tawaran" untuk membayarkan sepatunya.
Jika sang perempuan tertarik dengan lelaki itu, mereka bisa pergi kencan. Setelah kencan pertama usai, si perempuan akan mendapat "reimburse" dari persentase harga sepatu yang ditentukan si lelaki sejak awal tadi.
Intinya, si perempuan yang ingin beli sepatu, melihat sepatu, melihat profil lelaki yang bersedia memberikan diskon untuk sepatu pilihannya. Si perempuan lalu boleh memutuskan ingin kencan dengan lelaki itu atau tidak. Kalau setuju, mereka akan berkencan, si lelaki akan membayar jumlah harga yang ia tawarkan sejak awal. Setelah kencan dan reimburse itu selesai, sisanya, terserah mereka.
Dalam situsnya, Shoes Shoes Shoes mengatakan, model promosi semacam ini sangat mungkin terjadi di serial komedi romantis ternama, Sex and The City.
"Mengapa duduk dan menunggu Mr Right jatuh dari langit? Pergi dan lakukan apa yang Anda sukai lebih dulu, beli sepatu dan jalani mimpi 'Sex and The City' Anda, lalu biarkan profesional menjalani tugasnya untuk mencarikan pasangan plus kemungkinan diskon 100 persen atas sepatu yang Anda inginkan," begitu promosi di akun Facebook Shoe Dating, mengenai cara pemasaran ini.
Di dalam akun Facebook itu pun Shoes Shoes Shoes memasang beberapa foto promosi, salah satunya bertuliskan, "Now Comes With A Man". Ada pula foto-foto model lelaki sedang berdiri di jendela toko sepatunya, dengan hanya mengenakan celemek plus tanda bertuliskan "Free" di dadanya.
Respon masyarakat mengenai model pemasaran ini cukup beragam. Ada yang mempertanyakan, jika caranya dibalik, misalnya perempuan yang menjadi pembayar sepatu, artinya bentuk perdagangan perempuan. Dari cara kerjanya, kesan prostitusi terselubung memang pekat. Belum lagi kesan si lelaki seakan "membayar" perempuan dengan memberi diskon untuk sepatu yang ia inginkan.
Namun ada pula yang memberikan acungan jempol atas model pemasaran baru ini. Tak sedikit pula kalangan marketing yang memberikan respon atas inovasi pemasaran yang dilakukan Shoes Shoes Shoes dan Lunch Actually ini.
Menurut Anda?
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




