Menko PMK: Angkat Keragaman Budaya Etnik Indonesia Lewat Fashion
Rabu, 7 September 2016 | 19:57 WIB
Jakarta - Industri kreatif asli Indonesia, termasuk di bidang fesyen, merupakan salah satu dari sepuluh produk potensial eskpor dalam rangka meningkatkan kemandirian dan jati diri bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah sangat menaruh perhatian dan harapan besar terhadap penyenggaraan fashion show bertema "Folk n Vogue: 100% Indonesia".
Demikian dikatakan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani saat memberikan sambutan pada pembukaan "Folk n Vogue: 100% Indonesia" di Balai Sidang Jakarta, Rabu (7/9). Tampak hadir pada cara itu, antara lain Bintang Puspayoga, mewakili Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), para desainer, dan peserta "Folk n Vogue: 100% Indonesia".
Menurut Puan, langkah dan upaya untuk mengangkat keragaman budaya etnik Indonesia pada acara itu, khususnya yang bertemakan fesyen dan industri kreatif asli Indonesia, adalah sangat tepat.
"Indonesia begitu kaya dengan aneka ragam budaya daerah. Ada lebih dari 300 kelompok etnik atau sedikitnya 1.340 suku bangsa menurut Sensus Penduduk Tahun 2010. Puncak-puncak budaya daerah yang merupakan puncak-puncak karya kreatif dan inovatif dari masing-masing suku bangsa itu yang membangun budaya asli 100% Indonesia, termasuk di bidang busana," ucap Puan.
Menko PMK mengatakan, Indonesia mempunyai beraneka ragam busana Nusantara dengan berbagai simbol dan ornamen yang mewakili elemen estetika dan filosofis yang menjadi kearifan masing-masing suku bangsa atau daerah.
"Setidaknya, kita mempunyai lebih dari 10 ragam kain asli Nusantara, seperti tenun ikat Bali dan Flores, kain songket Palembang dan Minangkabau, kain sulam Karawo Gorontalo, kain sutra Bugis, kain Sasirangan, kain ulos Batak, kain tapis Lampung, kain batik, kain gringsing, kain besurek, serta kain tenun Dayak," paparnya.
Puan juga mengingatkan, Indonesia saat ini diserbu oleh derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta sengitnya persaingan global di semua bidang kehidupan. Semua itu bisa mengikis budaya dan jati diri bangsa, termasuk di bidang busana.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat, ujarnya, telah melahirkan "dunia tanpa batas" (borderless-state). Hal ini pada gilirannya membawa dampak negatif berupa gegar budaya (culture shock) dan ketunggalan identitas global di kalangan generasi muda Indonesia.
"Cepat atau lambat jika tidak disikapi dengan bijak dan cermat, hal ini akan meminggirkan budaya daerah, budaya asli Indonesia yang penuh dengan kearifan setempat yang telah berkembang selama ratusan, bahkan ribuan tahun di Tanah Air kita tercinta," kata Puan.
Puan berharap, agenda ini memberikan kontribusi terhadap perkembangan produk seni dan budaya kreatif khususnya industri fesyen Indonesia. Bahkan, ke depan, diharapkan ajang ini dapat menjadi perhelatan kelas dunia di Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




