Mitos Daging Kambing yang Timbulkan Masalah Kesehatan

Jumat, 9 September 2016 | 20:32 WIB
IH
YD
Penulis: Indah Handayani | Editor: YUD
Kambing untuk kurban pada Idul Adha.
Kambing untuk kurban pada Idul Adha. (Antara)

Jakarta - Ada beberapa mitos mengenai daging kambing yang beredar di tengah masyarakat yang diyakini kebenarannya sehingga justru masalah menimbulkan masalah kesehatan. Apa saja mitos tersebut?

Praktisi kesehatan yang juga staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM DR Dr Ari Fahrial Syam SpPD KGEH FINASIM FACP MMB mengatakan Hari Idul Adha identik dengan hari raya qurban. Di hari raya ini sebagian masyarakat akan menikmati makanan yang mengandung daging kambing atau daging sapi. "Jika ingat daging kambing saya ingat beberapa mitos yang sangat diyakini masyarakat kebenarannya," ungkap Ari melalui keterangan pers, Jumat (9/9).

Dr Ari menyebutkan mitos pertama, masyarakat yang kebetulan diketahui tekanan darahnya rendah atau hipotensi (TD < atau = 90/60) akhirnya meningkatkan makan daging kambing agar tensinya naik. Tekanan darah rendah bisa disebabkan oleh berbagai hal. Bisa karena perdarahan, kurang minum sampai dehidrasi karena berbagai sebab, kelelahan atau kurang tidur. Tensi yang rendah juga dapat disebabkan karena gangguan pada jantung baik karena kelainan katup atau serangan jantung bahka gagal jantung.

Tapi, lanjut dia, pada sebagian masyarakat tanpa melihat kenapa TD-nya rendah langsung mengonsumsi daging kambing secara berlebihan. Kalau tensi turun karena gangguan jantung konsumsi daging kambing yang berlebihan justru akan fatal dan memperburuk keadaan. Dampak langsung akibat menkonsumsi daging kambing berlebihan adalah sembelit. Kalau kebetulan mempunyai penyakit GERD, yaitu penyakit dimana asam atau isi lambung balik arah ke atas.

"GERD-nya akan bertambah parah setelah mengonsumsi daging kambing berlebihan. Belum lagi efek jangka panjang berupa peningkatan kadar lemak dan kolesterol darah," jelas dia.

Mitos kedua yang juga beredar ditengah masyarakat adalah bahwa "torpedo" atau testis kambing akan meningkatkan gairah seksual atau sate kambing setengah matang meningkatkan gairah seksual. Ternyata hal inipun tidak sepenuhnya benar, memang testis kambing banyak mengandung testosteron yang dapat meningkatkan gairah seksual. Tetap sebenarnya peningkatan gairah seksual terjadi karena multifaktor dan tidak semata-mata berhubungan dengan makanan.

Dr Ari menambahkan daging kambing termasuk daging sapi masuk kelompok daging merah yang banyak mengandung lemak. Lemak hewani biasanya mengandung lemak jenuh. Lemak jenuh ini banyak mengandung LDL lemak jahat yang bisa menumpuk pada dinding pembuluh darah kita baik pembuluh darah otak dan pembulih darah jantung. Selain lemak, daging kambing juga mengandung protein hewani. Protein kita butuhkan untuk menggantikan sel-sel yang rusak dan sebagai zat pembangun.

"Jadi tetap daging tetap penting karena mengandung protein tinggi yang penting jangan dikonsumsi berlebihan," pungkas Ari.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon