Pasar Tunggu Rapat The Fed
Senin, 12 September 2016 | 22:50 WIB
JAKARTA -- Pelaku pasar diperkirakan masih menunggu hasil rapat The Fed pada 20 September nanti, yang bisa memberikan arah rencana penaikan suku bunga acuan bank sentral AS tersebut. Sedangkan faktor dalam negeri yang memengaruhi pergerakan IHSG di pasar saham pekan ini antara lain realisasi tax amnesty.
Hingga 12 September 2016 pukul 21.15 WIB, uang tebusan hasil tax amnesty (pengampunan pajak) sekitar Rp 8,93 triliun, naik Rp 5,81 triliun dibanding posisi akhir Agustus lalu. Sedangkan jumlah total harta bersih yang direpatriasi maupun yang hanya dideklarasi sebanyak Rp 388,46 triliun, naik Rp 239,50 triliun dari posisi akhir Agustus lalu.
"Realisasi kebijakan tax amnesty akan ikut berpengaruh terhadap pergerakan pasar saham. Sementara itu, data inventory minyak, inflasi, manufaktur, dan tingkat tenaga kerja di Amerika Serikat yang bakal dirilis kemungkinan menarik. Meskipun beberapa data ekonomi AS diperkirakan membaik, tetapi tidak signifikan. Kami memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini cenderung kecil," ujar analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee di Jakarta, Senin (12/9).
Apabila realisasi tax amnesty sesuai ekspektasi, hal itu bakal mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan data global selain dari The Fed AS, lanjut dia, relatif belum ada yang penting.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, pada perdagangan pekan ini, IHSG diperkirakan berada pada rentang support 5.250-5.267 dan resisten 5.345-5.415.
Analis PT Daewoo Securities Indonesia Tasrul mengatakan, Jumat pekan lalu, IHSG ditutup terkoreksi ke level 5.281,92 atau minus 1,66%. Saham-saham yang menjadi penahan IHSG adalah PGAS, SMGR, LPPF, EMTK, dan TPIA, sedangkan yang menjadi penekan antara lain HMSP dan UNVR.
"Dari hasil optimalisasi indikator Money Flow Index (MFI) dan indikator W%R, saat ini, sudah berada sekitar support trendline dengan volume transaksi masih sekitar rata-rata. Dengan demikian, diperkirakan potensi koreksi IHSG makin terbatas dengan kecenderungan menguat. Trading range IHSG untuk hari Selasa (13/9) antara level 5.271-5.355," papar Tasrul di Jakarta, akhir pekan lalu.
Mencoba Rebound
Reza menilai, data global, terutama dari AS akan kembali dicermati pelaku pasar terkait potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). "Kami perkirakan laju IHSG kembali cenderung bergerak variatif flat, meski juga akan kembali mencoba rebound memanfaatkan pelemahan sebelumnya. Investor tetap perlu mewaspadai potensi pelemahan yang masih ada," ungkap dia.
Sementara itu, Hans Kwee memperkirakan, IHSG pekan ini masih mengalami konsolidasi. Dia menilai, sejumlah faktor yang akan memengaruhi pasar pekan ini tidak ada yang signifikan.
"Setelah minggu lalu menembus level support, kemungkinan besar indeks masih terkonsolidasi cenderung melemah. Pasar Indonesia masih menunggu rapat The Fed pada 20 September nanti," imbuhnya.
Pekan ini, dia memperkirakan IHSG bakal menguji level support pada 5.250-5.496 dan resistance pada 5.300-5.350. Level harian IHSG diperkirakan berada pada support 5.250-5.396, apabila indeks melemah kemungkinan penurunannya dapat menguji level 5.220.
Bursa AS Hijau
Sementara itu, laju bursa saham AS mengawali perdagangan pekan ini berada di zona hijau. Indeks Dow Jones Industrial Average, pada perdagangan Senin (12/9) hingga pukul 10.32 waktu setempat, naik 0,31% ke level 18.141,09. Melemahnya laju dolar AS seiring respons pelemahan sejumlah data ekonomi AS memberikan kesempatan bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunganya dan hal tersebut direspons positif oleh pelaku pasar.
Analis Binaartha Parama Halimas Tansil menjelaskan, sampai saat ini, investor asing masih wait and see sehingga tidak agresif di pasar. Selama ini, pertumbuhan IHSG di BEI didorong aliran dana asing yang masuk cukup besar.
"Diam atau sedikit keluarnya dana asing membuat indeks cenderung melemah. IHSG kemungkinan masih melemah karena sudah break level support. Akan tetapi, trend IHSG sampai akhir tahun ini masih bergerak menuju level 5.530. Untuk saham-saham second liner masih bisa dikoleksi," paparnya.
Dia menilai, investor asing masih menunggu peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini, meski kemungkinannya kecil. Itulah sebabnya, lanjut dia, IHSG cenderung sideways dan melemah dalam waktu dekat.
Analis dari Briefing.com Patrick O'Hare mengatakan, tekanan terhadap kenaikan suku bunga The Fed sangat terasa pada Jumat pekan lalu. Kegelisahan melingkupi pasar. Indeks-indeks saham utama Eropa dan Asia turun lebih dari 1% setelah dua pejabat The Fed pada Jumat (9/9) waktu setempat mengindikasikan bahwa pihaknya bisa menaikkan federal funds rate (FFR) bulan ini. Pernyataan dua pejabat The Fed itu mengirimkan sinyal bahwa era dana murah segera berakhir.
Menurut Presiden The Fed Boston Eric Rosengren, suku bunga acuan perlu dinaikkan untuk mencegah perekonomian AS mengalami overheating. Sementara itu, Gubernur The Fed Daniel Tarullo yang kerap bernada dovish mengisyaratkan keterbukaannya pada kenaikan suku bunga tahun ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




