Penggunaan Mobile Payment Belum Dirasa Aman
Rabu, 21 September 2016 | 20:11 WIB
Jakarta - Seiring dengan semakin pesatnya penetrasi smartphone, tren penggunaan mobile banking atau mobile payment juga terus naik. Smartphone kini sudah berfungsi layaknya ATM. Transaksi pembayaran apapun bisa dilakukan lewat perangkat tersebut.
Regional Director Fortinet Indonesia dan Malaysia, Edwin Lim memaparkan, secara global mobile payment market diestimasi mencapai US$ 2,8 triliun pada 2020. Di sisi lain, penelitian Gemalto menyebutkan sekitar 54 persen pengguna mobile payment merasa tidak yakin dengan keamanannya, meski pun pada akhirnya mereka tetap menggunakan media tersebut.
Fortinet merangkum empat ketakutan dalam melakukan transaksi dengan mobile payment. Antara lain ketakutan akan fraud atau kecurangan, ketakutan karena tidak tahu sedang berhubungan dengan siapa, ketakutan melakukan hal yang salah saat proses transaksi, serta ketakutan terhadap pencurian data-data pribadi.
Information System Audit and Control Association (ISACA) belum lama ini juga melakukan sebuah penelitian tentang kepercayaan masyarakat dalam bertransaksi menggunakan mobile payment. Dalam penelitian tersebut disebutkan, hanya 23 persen dari semua transaksi mobile payment yang benar-benar dirasakan aman.
ISACA juga mencatat hal-hal yang membuat penggunaan mobile payment menjadi berisiko. Penggunaan public WiFi ternyata yang paling berisiko, karena mudah disusupi penjahat siber. Karenanya, Edwin menyarankan untuk tidak melakukan transaksi mobile payment saat menggunakan WiFi umum.
"Yang juga penting adalah selalu mengganti password secara berkala untuk mencegah penyalahgunaan akun lantaran penggunaan kata sandi yang lemah," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




