Hilirisasi Hasil Penelitian

UGM Bangun Science Technopark

Rabu, 21 September 2016 | 22:59 WIB
FE
FH
Penulis: Fuska Sani Evani | Editor: FER
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof Dwikorita Karnawati
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof Dwikorita Karnawati (Beritasatu Photo/Fuska Sani)

Yogyakarta - Universitas Gadjah Mada (UGM) akan membangun science technopark di Kabupaten Kulonprogo, yang akan digunakan teaching industry hilirisasi produk-produk akademik dan penelitian secara langsung kepada masyarakat melalui industri.

Rektor UGM, Prof Dwikorita Karnawati, mengatakan, UGM Science Technopark merupakan konsep yang digagas oleh UGM dalam rangka hilirisasi hasil riset inovatif yang dilakukan oleh peneliti UGM dalam berbagai bidang, juga sebagai wahana untuk pengembangan dan peningkatan pendidikan vokasional di UGM.

"Science Techno Park ini akan mulai dibangun pada 2018 mendatang, namun saat ini kami sudah menyiapkan produk-produk hasil riset yang diproduksi di mini factory UGM," kata Dwikorita, Selasa (20/9).

Dijelaskan, saat ini UGM telah mengembangkan berbagai produk peralatan kesehatan dalam skala terbatas, dengan Science Technopark tersebut, produk peralatan kesehatan karya peneliti UGM akan diproduksi dalam skala yang lebih besar, sehingga selain mencukupi kebutuhan pendidikan di Fakultas Kedokteran UGM, juga mampu diaplikasikan kepada masyarakat luas.

"Produk yang kita kembangkan antara lain adalah robot untuk melatih pasien pascastroke, selang untuk penderita hidrosepalus, dan ring jantung, tetapi semua masih diproduksi dalam skala kecil. Lewat UGM Science Technopark kita akan tingkatkan produksinya, sehingga bisa diterapkan bagi masyarakat," terang Dwikorita.

Dengan rencana dan target hilirisasi produk penelitian civitas akademika UGM tersebut, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap berbagai produk kesehatan impor.

"Hingga saat ini, setidaknya 90 persen peralatan kesehatan yang digunakan di Indoensia masih diimpor. UGM ingin memproduksi alat-alat kesehatan sendiri untuk mensubstitusi produk impor dengan harga yang lebih terjangkau," tambahnya.

Selain pengembangan manufacturing peralatan kesehatan, UGM Science Technopark juga mengembangkan produk-produk bidang agroindustri baik pangan maupun non pangan. Beberapa diantaranya adalah pengolahan kakao, susu kambing PE, serta pengolahan primer dan skunder kayu.

"Bahkan produk-produk dalam bidang energi baru dan terbarukan, dan manufaktur, rekayasa, teknologi infromasi dan komunikasi," papar Dwikorita.

Pembangunan UGM Science Technopark dilakukan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo serta menggandeng pihak industri, mengingat Kulonprogo memiliki potensi sumber daya hayati yang cukup tinggi. Hanya saja, pengembangan berbagai produk hasil pengelolaan sumber daya hayati tersebut belum dilakukan secara optimal sehingga keuntungan yang didapat masyarakat dan pemerintah daerah juga belum optimal.

"Melalui UGM Science Technopark ini diharapkan mampu mendorong perekonomian masyarakat lokal Kulonprogo," tambahnya.

Direktur Direktorat Perencanaan dan Pengembangan UGM, Muhammad Sulaiman, menambahkan, pengembangan teaching industry ditujukan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas khususnya lulusan vokasional. Teaching industry ini, lanjut dia, rencananya akan dimanfaatkan sebagai wahana pembelajaran oleh mahasiswa sekolah vokasi UGM dimana mahasiswa dilibatkan dalam proses mata rantai produksi.

"Hasilnya berupa produk yang diproduksi di teaching factory ini nantinya akan ditangkap langsung oleh industri untuk didistribusikan ke masyarakat luas. Proses pembelajaran tersebut akan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi dan bersertifikasi," terangnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon