BNN Gandeng First Media Berantas Narkoba
Selasa, 27 September 2016 | 12:16 WIB
Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menggandeng PT First Media Tbk untuk memberantas peredaran narkoba. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan di Gedung BeritaSatu Plaza, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (27/9) pagi.
Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso mengatakan, peran media massa sangat penting dan strategis dalam mendukung pemberantasan narkoba melalui pemberitaan yang selalu menyajikan banyak permasalahan obat terlarang itu.
"Pemberantasan narkoba diharapkan akan lebih cepat dan akurat melalui media massa. Selain itu, harus pula disampaikan kepada masyarakat mengenai dampak atau bahaya narkoba bagi generasi penerus," ujar Buwas, sapaan Budi.
Buwas mengatakan, dukungan pers dalam penanganan masalah narkoba mulai dari hulu sampai hilir, atau dari kegiatan preemtif dan preventif selama ini terus terjalin dengan baik.
"Melalui MoU bersama Lippo Grup khususnya First Media Tbk dalam pemberantasan narkoba adalah bagian inovasi atau kerja sama BNN dengan pers. Itu semua demi kepentingan pemberantasan narkoba sampai ke akarnya sebagaimana yang dituntut masyarakat," ujar Budi.
Dalam MoU antara BNN dan First Media Tbk tersebut, Kepala BNN didampingi Deputi Pencegahan Irjen Pol Ali Johardi, Kepala Pusat Penindakan Irjen Pol Arman Depari, serta anggota tim ahli BNN yakni, Ahwil Luthan dan Bekto Suprapto.
Adapun yang hadir dari Lippo Grup antara lain Presiden Lippo Group Theo Sambuaga, CEO First Media Tbk Irwan Djaja, dan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, BeritaSatu.com, dan Investor Daily, Primus Dorimulu.
Orang nomor satu di BNN itu menambahkan, kerja sama pemberantasan narkoba melalui MoU dengan PT First Media Tbk akan membantu BNN mempercepat penyebaran informasi akan bahaya narkoba kepada masyarakat. Selain itu juga semakin memperkuat hubungan kemitraan antara pers dengan BNN.
Dikatakan, saat ini ada 72 jaringan narkoba internasional yang beroperasi di Indonesia. Puluhan jaringan itu menyamar menjadi turis saat menjual narkoba di Indonesia untuk mengelabui petugas. Ke-72 kelompok tersebut antara lain dari India, Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan India. Adanya kamuflase identitas jaringan itu terus dimonitor. "Jaringan narkoba itu juga merekrut orang-orang agar bergabung," ujarnya.
Mengantisipasi dini aksi terselubung tersebut, diimbau peran aktif masyarakat dalam memberantas peredaran narkoba, sebab kejahatan narkoba di Indonesia sudah menjadi agenda global. Hal ini karena sindikat narkoba mempunyai kekuatan seperti pengendalian pasukan pengedarnya. Selain itu, mereka juga melakukan kaderisasi hingga memperkuat jaringan yang selalu berkembang, termasuk jaringan yang masuk ke lapas. Oleh karena itu, tidak heran jika dari lapas itu setelah bebas malah membuat kelompok bandar atau pengedar baru.
BNN juga mewaspadai berbagai modus penjualan dan peredaran serta penemuan sejumlah jenis baru narkoba di Indonesia.
"Membendung strategis baru peredaran narkoba tersebut, kita tidak saja harus bekerja keras, tetapi juga dukungan pers sampai stakeholder lainnya. Sebab, kejahatan narkotika sudah masuk masalah dalam dan luar negeri (internasional)," ujar Buwas.
CEO PT First Media Tbk Irwan Djaja mengatakan, pihaknya akan mendukung secara penuh pemerintah melalui BNN dalam pemberantasan narkoba. "Kita akan mendukung pemberantasan narkoba yang semakin meresahkan. Jumlah korban saat ini mencapai 5,1 juta orang, dan kerugian negara akibat narkoba capai puluhan triliun rupiah," ujar Irwan.
Menurut Theo Sambuaga, hal yang paling mengkhawatirkan, narkoba merupakan salah satu ancaman bagi generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, Lippo Group mendukung penuh BNN dalam mengatasi narkoba.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




