Rembug Kopi Nusantara Pamerkan Kopi dan Kompetisi Roasting

Rabu, 5 Oktober 2016 | 18:18 WIB
MM
B
Penulis: Mardiana Makmun | Editor: B1
Rembug Kopi Nusantara akan memamerkan kopi Indonesia
Rembug Kopi Nusantara akan memamerkan kopi Indonesia (Mardiana Makmun/Investor Daily/Mardiana Makmun)

Jakarta - Indonesia kaya dengan beragam jenis kopi. Hampir semua provinsi memiliki kopi dengan ciri khas yang berbeda. Kekayaan kopi Indonesia ini akan dipamerkan dalam pameran kopi sebagai bagian dari acara Rembug Kopi Indonesia. Acara yang diselenggrakan oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI akan berlangsung mulai 13-15 Oktober 2016 di Exhibition Hall, SMESCO Rumahku, Jakarta.

"Selain kegiatan utama yaitu workshop Rembug Kopi Nusnatara, juga akan digelar pameran produk kopi nusantara, demo roasting kopi, lomba roasting kopi, cupping taste bersama 100 penikmat kopi, lomba brewing, demo dan workshop latte art, pemilihan duta kopi, hingga lomba busana batik," kata ketua panitia Rembug Kopi Nusantara,, Lisha Ayodhya di Jakarta, Rabu (5/10).

Ahli kopi Tri Yuli Kurniasih mengungkapkan uniknya aroma dan citarasa kopi Indonesia. "Tanah, ketinggian, tanaman di sekitar pohon kopi, ikut menyumbang aroma dan citarasa kopi. Kopi Kintamani Bali beraroma jeruk karena pohonnya ditumpangsari dengan jeruk keprok. Kopi di sebuah daerah di Jawa rasanya rasa aren, ada juga kopi rasa teh karena ditanam bekas lahan teh," kata Tri Yuli Kurniasih.

Digelarnya cara ini, tambah Jamil Musanif, perwakilan Koperasi Kopi Indonesia Sejahtera (KOPKIS), juga untuk meningkatkan konsumsi kopi Indonesia. "Konsumsi kopi orang Indonesia masih rendah, hanya sekitar 2 kg/tahun/orang. Bandingkan dengan Belanda yang mencapai 15 kg/tahun/orang," kata Jamil.

Tak hanya itu, meski memiliki lahan kopi terluas di dunia, produktivitas kopi Indonesia justru berada di posisi nomor 3 atau 4, setelah Brazil, Vietnam, dan Kolumbia.

"Lahan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar, tapi produktivitasnya hanya 600 kg/ ha. Bandingkan dengan Brazil dengan lahan 600 ribu ha tapi produktivitasnya mencapai 4 ton/ha, dan Vietnam dengan lahan 400 ribu ha memiliki produktivitas 3 ton/ha," ungkap Jamil.

Rendahnya prouduktivitas kopi Indonesia, kata Tri Yuli Kurniasih disebabkan banyak faktor. "Salah satunya adalah banyak pohon kopi di Indonesia berusia tua, antara 35 sampai 40 tahun. Harusnya diadakan peremajakan pohon kopi. Petani kopi Indonesia juga tak mungkin memanen kopi dengan mesin karena lahan yang lebih banyak di pegunungan, berbeda dengan di Brazil yang berlahan datar. Tapi, kopi Indonesia yang dipanen dengan dipetik tangan memiliki kualitas lebih tinggi," tandas Tri Yuli.





Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon