Isu SARA Tidak Terlalu Efektif di Pilkada DKI Jakarta

Senin, 10 Oktober 2016 | 13:05 WIB
YP
FB
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: FMB
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilgub DKI Jakarta 2017.
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. (Beritasatu.com)

Jakarta - Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas menilai isu-isu yang bernuansa suku, agama, ras dan antara golongan (SARA) tidak terlalu laku dan efektif di pemilihan gubernur DKI Jakarta. Menurut Abbas, pemilih DKI Jakarta secara umum merupakan pemilih yang moderat dan tidak terpengaruh oleh latar belakang agama atau etnis dalam menentukan pemimpinnya.

"Pemilih DKI Jakarta secara umum adalah pemilih yang moderat, mudah mengakses informasi dan bisa mengambil jarak atau bersikap kritis terhadap informasi-informasi yang berbeda termasuk isu-isu yang menyentuh SARA jelang pilgub DKI Jakarta," ujar Abbas di Jakarta, Senin (10/10).

Sejauh yang diamati Abbas, isu SARA lebih banyak dimainkan oleh kelompok-kelompok kecil yang sejak awal tahapan Pilgub DKI Jakarta menggunakan isu-isu SARA untuk menjegal atau menyerang kandidat tertentu. Namun, pengaruh dari isu-isu SARA ini tidak terlalu luas dan bahkan bisa menjadi blunder.

"Bisa jadi punya efek pada kelompok-kelompok yang masih mempercayai isu perbedaan agama ini sebagai isu politik. Namun, sampai saat ini, saya belum melihat efek yang signifikan dari isu SARA ini. Kalau pun ada efeknya, itu berkisaran sekitar kelompok yang sejak awal percaya dengan isu itu," tandas Abbas.

Dia mengaku bahwa kelompok kecil ini memang menemukan momentumnya belakangan ini, pasca Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama alias Ahok mengeluarkan statement yang menurut mereka menghina atau menghujat Al-Quran. Kelompok ini, kata dia, benar-benar memanfaatkan statement Ahok yang sudah diedit untuk disebarkan sebagai bentuk penghinaan terhadap Al-Quran.

"Apapun real story-nya itu sudah dipolitisasi. Bolanya semakin membesar. Jika isu ini tidak dimanage dengan baik, maka punya risiko mempengaruhi pemilih yang tidak punya cukup informasi untuk verifikasi informasi tersebut. Yang terjadi saat ini adalah proses disinformasi, yaitu proses penyebaran, perluasan informasi yang kurang tepat dan kurang sesuai dengan kenyataan," ungkap dia.

Dalam menanggapi isu SARA ini, Abbas menganjurkan agar kelompok-kelompok agama bersikap bijak, tidak cepat mengeluarkan statement hanya berdasarkan informasi yang beredar di media, tanpa merujuk pada sumber resminya. Pasalnya, jika kelompok-kelompok agama mengeluarkan statement tanpa merujuk pada sumber resmi, maka bisa memperkeruh situasi jelang Pilgub DKI Jakarta.

"Pemilih DKI Jakarta juga perlu tetap konsisten dengan sikap kritisnya, rasional dan tidak terpancing dengan isu-isu SARA dalam menentukan pemimpin. Fokus saja pada rekam jejak, kinerja dan pengalaman para bakal calon serta program-program dan visi mereka dalam membangun Jakarta yang lebih baik," imbuh dia.

Sementara untuk para bakal calon atau tim suksesnya, kata Abbas, perlu juga menahan diri untuk tidak menggunakan isu SARA dalam berkampanye. Menurut dia, perlu komitmen bersama para bakal calon untuk menolak isu SARA.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon