Adaro Tuntaskan Akuisisi IndoMet Coal
Minggu, 16 Oktober 2016 | 20:47 WIB
Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menuntaskan proses transaksi pembelian saham proyek tambang batubara IndoMet Coal senilai US$ 120 juta. Perseroan resmi mengambil alih 75% saham IndoMet Coal dari BHP Billiton Ltd pada 14 Oktober 2016.
Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto menjelaskan bahwa Adaro melalui PT Alam Tri Abadi dan Coaltrade Services International Pte Ltd membeli saham PT Maruwai Coal, PT Juloi Coal, PT Kalteng Coal, PT Sumber Barito Coal, PT Lahai Coal, PT Ratah Coal dan PT Pari Coal.
"Transaksi telah terlaksana dengan telah terpenuhinya persyaratan-persyaratan dalam share sale agreement (SSA)," jelas Mahardika dalam keterangan resmi, akhir pekan lalu.
Proyek IndoMet Coal sebelumnya milik perusahaan asal Australia, BHP Billiton Ltd. IndoMet Coal merupakan proyek yang terdiri dari tujuh kontrak karya batubara yang berlokasi di Kalimantan Tengah dan Timur.
Adapun Tambang Haju yang terletak di kawasan Lahai Coal Kontrak Karya memiliki kapasitas produksi satu juta ton batubara per tahun dan telah berproduksi sejak 2015.
Sebagai informasi, sejak 2010, Adaro telah memiliki 25% saham pada IndoMet Coal. Dengan pembelian saham milik BHP Billiton, berarti Adaro menguasai 100% IndoMet Coal.
Sementara itu, sepanjang semester I-2016, Adaro Energy meraih laba bersih sebesar US$ 123 juta, tumbuh 3% dari realisasi periode sama tahun lalu sebesar US$ 119 juta. Sementara itu laba inti perseroan tercatat tumbuh sebesar 15% menjadi US$ 170 juta dari sebelumnya sebesar US$ 143 juta.
Meskipun begitu, pendapatan perseroan semester I tahun ini tercatat turun 16% menjadi sebesar US$ 1,17 miliar dibandingkan periode sama 2015 sebesar US$ 1,39 miliar. Penurunan pendapatan terjdi karena harga jual rata-rata perseroan 17% lebih rendah dari semester I tahun lalu. Sementara volume penjualan terhitung stabil, yaitu sebanyak 27,1 juta ton.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) Adaro Energy Garibaldi Thohir pernah mengatakan bahwa terjadi peningkatan dalam dinamika pasar batubara termal beberapa waktu terakhir. Peningkatan dinamika pasar ditopang oleh rasionalisasi suplai di negara-negara utama penghasil batubara serta permintaan yang berkelanjutan.
"Kami tetap meyakini bahwa penurunan pasar saat ini bersifat siklikal dan fundamental jangka panjang batubara tetap kokoh," ungkapnya.
Dia juga optimistis terhadap prospek pasar batubara di Indonesia dan Asia Tenggara karena negara di Asean akan terus bergantung pada batubara yang menjadi bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi terus meningkat.
Sementara itu, sepanjang semester I, perseroan telah membayar pinjaman bank sebesar US$ 69 juta serta mengurangi utang bersih sebesar 32% year on year (YoY) menjadi sebesar US$ 702 juta. Akses likuiditas perseroan saat ini mencapai US$ 893 juta, termasuk US$ 828 juta di antaranya berbentuk kas dan US$ 65 juta dalam bentuk fasilitas pinjaman.
"Jadwal pembayaran utang rata-rata dari 2016 – 2021 berada pada tingkat yang terkendali, yaitu sebesar US$ 243 juta per tahun," tuturnya.
Pinjaman jangka panjang perseroan setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun tercatat sebesar US$ 1,38 miliar, atau turun 12% dari periode sama tahun lalu. Adaro terus melakukan pembayaran terhadap utang. Bagian utang jangka pendek dari pinjaman jangka panjang perseroan tercatat sebesar US$ 150 juta, turun sebesar 7% dari tahun lalu.
Sedangkan arus kas dari aktivitas operasional naik YoY menjadi sebesar US$ 334 juta. Nilai tersebut merupakan hasil dari kegiatan operasional perseroan yang efisien.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




