Pengembangan Bangunan Konservasi Air Antispasi Perubahan Iklim (1)
Selasa, 18 Oktober 2016 | 19:53 WIB
Jakarta- Pengembangan bangunan konservasi air pada sektor pertanian menjadi strategi yang jitu untuk menyiasati dampak perubahan iklim. Cara ini berguna untuk menyimpan air sekaligus mengatasi kelangkaan air, sehingga dapat meningkatkan luas tanam dan produksi pertanian.
Beberapa jenis bangunan konservasi air yang dikembangkan Pemerintah melalui Kementerian Pertanian yaitu embung, dam parit, dan longstorage.
Ketiga bangunan tersebut pada prinsipnya berupa tampungan air dengan karakteristik yang berbeda tergantung jenis sumber air, bentuk tampungan, dan cara memanfaatkannya.
Embung, misalnya, merupakan bangunan konservasi air berbentuk kolam/cekungan untuk menampung air limpasan (run off) serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian.
Sedangkan dam parit adalah suatu bangunan konservasi air berupa bendungan kecil pada parit-parit alamiah atau sungai - sungai kecil yang dapat menahan air dan meningkatkan tinggi muka air untuk disalurkan sebagai air irigasi.
Sementara long storage adalah bangunan penahan air yang berfungsi menyimpan air di dalam sungai, kanal, dan atau parit pada lahan yang relatif datar dengan cara menahan aliran untuk menaikkan permukaan air sehingga cadangan air irigasi meningkat.
Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian melalui Direktorat Irigasi Pertanian pada 2015 dan2016 telah melaksanakan program kegiatan konservasi air yaitu kegiatan Pengembangan embung/dam parit/long storage dari dana APBN.
"Pada 2015 dikembangkan 318 unit embung/dam parit/long sturage di 57 kabupaten 16 provinsi. Jumlah itu bertambah pada 2016 menjadi sebanyak 2.030 unit tersebar di 270 kabupaten dan 32 provinsi. Dengan satuan harga per unit adalah Rp 100 juta dan coverage area rata-rata 25 ha/unit," kata Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sumardjo Gatot Irianto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (18/10)
Dia mengatakan pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan secara padat karya oleh Kelompok Tani. "Hasil dari program ini diperkirakan minimal mampu meningkatkan Indeks Pertanaman minimal sebesar 0,5," katanya.
Berdasarkan data Pusdatin Kementerian Pertanian 2015, jika asumsi produktivitas padi nasional 5,2 ton/ha maka strategi pengembangan bangunan konservasi akan potensial meningkatkan produksi pada 2015 minimal sebesar 20.670 ton dan pada 2016 minimal sebesar 131.950 Ton.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




