Eastspring Investments: Koreksi Akibat Sentimen Trump Bersifat Emosional dan Sementara
Rabu, 9 November 2016 | 19:42 WIB
Jakarta - Pada hari ini, Rabu (9/11), rakyat Amerika telah memilih Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45
pada pemilihan umum 2016 dengan rentang hasil yang cukup lebar, 278 electoral vote berbanding 218 electoral vote,
dengan batas 270 electoral vote dinyatakan sebagai kemenangan (hasil per pukul 17.00 WIB).
Kebijakan-kebijakan Trump tergolong kontroversial, dia berjanji untuk mengimplementasikan pemotongan pajak,
mendeportasikan jutaan imigran gelap dan mencabut/ menegosiasi ulang NAFTA (North American Free Trade
Agreement) dan berbagai kebijakan perdagangan proteksionis lainnya.
Secara keseluruhan bursa saham global mencatatkan pelemahan, bursa saham future di AS tercatat turun 2-3 persen dan
bursa saham di Eropa dibuka melemah 0,6-1,5 persen. Indeks saham regional juga mengalami kondisi yang sama, misalnya
Nikkei mengalami penurunan sebanyak 5,4 persen, Hangseng turun 2,2 persen dan KOSPI melemah 2,3 persen.
Menurut Eastspring Investments, reaksi pasar hari ini adalah reaksi emosional yang tidak mencerminkan potensi terjadinya perlambatan ekonomoi atau laba korporasi.
Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebanyak 1,03 persen ke level 5.414.
Nilai tukar Rupiah tercatat melemah sebanyak 0,33 persen ke level 13.127. Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 10bps ke level 7,35 persen. Terpilihnya Trump sebagai Presiden AS memang menimbulkan ketidakpastian yang cukup tinggi, baik bagi ekonomi AS dan global.
Menurut EastSpring Investments, Ekonomi AS diperkirakan akan tumbuh moderat di kisaran 1,5-2 persen, dan inflasi diperkirakan meningkat. Kebijakan Trump terkait pemotongan pajak dapat meningkatkan belanja konsumsi, namun berimbas pada defisit anggaran yang lebih lebar.
"Namun kami percaya, jika terjadi koreksi yang cukup dalam pada pasar keuangan tanpa diimbangi perubahan fundamental, merupakan kesempatan yang baik bagi peluang investasi," tulis Eastspring.
Perlu diingat bahwa ekonomi Indonesia pada saat ini sudah mulai mengalami perbaikan. Pertumbuhan ekonomi di
kuartal 3 membaik ke 5,02 persen YoY, dibandingkan tahun lalu di 4,79 persen YoY. Selain itu, data-data lainnya juga cukup
mendukung, seperti inflasi yang masih terkendali di 3,31 persen YoY pada bulan Oktober, cadangan devisa di USD 115 miliar
pada bulan Oktober, nilai tukar Rupiah yang terkendali dan Current Account Defisit (CAD) di 2,02 persen pada kuartal 2 lalu.
Kebijakan Bank Indonesia juga turut mendukung dengan diturunkan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 Days Reverse
Repo Rate sebanyak 150 bps sejak awal tahun ini dan kebijakan pemerintah terkait Tax Amnesty diharapkan dapat
membawa sentimen positif bagi Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




