Kerusuhan Sarulla, Jangan Adu Domba Presiden dengan Masyarakat
Minggu, 13 November 2016 | 14:15 WIB
Medan - Masyarakat Pahae yang tergabung dalam Persatuan Luat Pahae Indonesia (PLPI) mengharapkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak mudah diadu domba oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Pemkab Taput) terkait kerusuhan di balik pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Sarulla, Sumatera Utara (Sumut), beberapa waktu lalu.
"Kami yang mewakili masyarakat meminta Presiden Jokowi untuk meninjau ulang proses pelaksanaan pembangunan pembangkit listrik di kampung halaman kami tersebut. Silakan lanjutkan pembangunan. Namun, penguasa di daerah kami itu patut dicurigai, ada mengambil keuntungan dari proyek itu," ujar Penasehat PLPI, Gandi Parapat, Minggu (13/11).
Gandi mensinyalir, penguasa di kabupaten itu sengaja menuding masyarakat tidak mendukung pembangunan pembangkit listrik yang sedang dikerjakan PT Sarulla Operations Limited (SOL) tersebut. Padahal, masyarakat yang berperan besar dalam mendukung pembangunan pembangkit listrik panas bumi demi penerangan tersebut.
"Penguasa di sana sengaja menyampaikan informasi yang diduga menyesatkan, seakan mengadu domba Presiden Jokowi dengan masyarakat atas konflik di pembangunan pembangkit listrik itu. Pembangunan pembangkit listrik itu adalah bagian dari program Presiden demi dan yang didukung penuh oleh masyarakat di Kecamatan Sarulla," katanya.
Menurutnya, Presiden bisa melakukan evaluasi dengan menghentikan sementara proyek pembangunan pembangkit listrik itu. Evaluasi ini perlu dilakukan untuk mendalami kepentingan penguasa yang diduga mengambil keuntungan di balik mega proyek tersebut. Bahkan, aset pemerintah juga dikabarkan dilego ke perusahaan pembangkit itu.
"Kerusuhan yang terjadi di Sarulla beberapa waktu lalu, bukan karena masyarakat meminta anggaran dana Corporate Social Responsibility (CSR). Kerusuhan itu terjadi karena PT SOL tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum melakukan peledakan. Ledakan dan kebisingan yang ditimbulkan itu membuat masyarakat terganggu," ungkapnya.
Masyarakat menduga, ada skenario terselubung di balik kerusuhan yang terjadi itu. Skenario itu diduga sengaja diciptakan untuk memancing emosi masyarakat, yang kemudian dengan memanfaatkan aparat dalam menangkap masyarakat saat melakukan protes. Soalnya, beredar isu bahwa ada oknum aparat terlibat dalam pengadaan bahan bakar di proyek tersebut.
Jauh hari sebelumnya, Kepolisian Resor Tapanuli Utara (Polres Taput) menetapkan 21 orang sebagai tersangka dalam kasus perusakan, penjarahan dan penganiayaan terhadap enam orang warga Korea. Penjarahan dan penganiayaan tersebut terjadi di lokasi pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi di Sarulla kawasan Silangkitang, Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).
"Mereka dijerat dengan Pasal Psl 363 ayat 1 sub 170 sub 406 dan 351 ayat 1 Dari KUHP dan dengan ancaman Hukuman tujuh tahun penjara. Jumlah tersangka kemungkinan bisa bertambah," kata Kepala Sub Bagian Humas Polres Taput, Aiptu W Baringbing.
Baringbing mengatakan, penetapan tersangka itu berdasarkan keterangan saksi yang melihat kejadian. Selain itu, rekaman Closed Circuit Television (CCTV) milik perusahaan yang mengerjakan proyek pembangkit, PT Hyundai di kawasan Sarulla Operation Limited (SOL), menguatkan penetapan tersangka itu.
"Ada 40 orang warga yang diamankan saat terjadinya aksi perusakan tersebut. Sebanyak 21 orang akhirnya dijadikan tersangka. Kita masih melakukan pengembangan atas kasus pengrusakan, penjarahan dan penganiayaan oleh warga itu," katanya.
Menurutnya, tersangka itu adalah Gunawan Simbolon, Roy Martin Pardede, Ranadi Sitompul, Tumpal Aritonang, Tuahman Saragi, Diarman Hutagalung, Noil Padrasah Sitompu, Nunut Efendi Sitompul, Aligalaksi Hutabarat.
Selain itu, Diego Amanda Sitompul, Kevin Alvando Sianturi, Amri Parapat, Jujur Panggabean, Andus Parapat, Karno siburian, Sakti Simatupang, Ronal Nainggolan, Jefri Nainggolan, Jontri Sitompul, Chandro parapat dan Jawan Hutabarat.
Informasi yang diperoleh, kerusuhan oleh masyarakat di lokasi proyek Sarulla berawal dari adanya suara ledakan yang sangat besar. Semula, masyarakat sekitar menduga bahwa ledakan itu bersumber dari ban truk yang pecah.
Namun, masyarakat semakin terganggu karena mencium aroma tidak sedap yang bersumber dari suara bising di proyek itu. Sebagian di antara warga mengaku sesak nafas. Masyarakat kemudian beramai- amai mendatangi lokasi proyek. Kemudian mereka mengamuk dan menganiaya karyawan perusahaan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




