Industri Alas Kaki Bogor Diharapkan Menggeliat
Rabu, 4 Januari 2017 | 16:59 WIB
Bogor - Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartanto, mengawali 2017 dengan menyambangi sentra produksi industri kecil menengah (IKM) yang memproduksi alas kaki di Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.
"Dari segi kapasitas industri sepatu, Indonesia nomor empat dunia. Sehingga, industri sepatu menjadi pusat perhatian pemerintah," papar Airlangga, di depan para pengarajin di Kantor Desa Mekarjaya, Selasa (3/1).
Airlangga menyampaikan, Kementerian Perindustrian (Kemperin) selalu konsisten mendorong produktivitas dan daya saing IKM.
"Sektor ini menjadi salah satu yang diprioritaskan pengembangannya karena berperan dalam memberikan kontribusi terhadap devisa negara dan penyerapan tenaga kerja," kata Airlangga.
Secara umum, kata dia, rata-rata nilai investasi yang ditanamkan untuk menjalankan usaha IKM alas kaki di dalam negeri mencapai Rp 37 juta. Sedangkan untuk menghasilkan produknya, diperlukan bahan baku utama yang rata-rata senilai Rp 6,5 juta dalam satu bulan.
Menurut Menperin, IKM alas kaki mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja, dengan karakteristik jumlah pekerja di setiap satu unit usaha sekitar 1-19 orang. Berdasarkan data BPS pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 15 (KBLI-15), IKM alas kaki tergabung dalam kelompok IKM penyamakan kulit dan produk kulit.
Data tahun 2010, menunjukkan, kelompok usaha tersebut berjumlah 32.910 unit dengan jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 114.495 orang di seluruh Indonesia.
"Dari data tersebut, sebanyak 49 persen merupakan IKM alas kaki, selanjutnya 48 persen IKM produk kulit dan 3 persen IKM penyamakan kulit," paparnya.
Sedangkan, penyerapan tenaga kerja pada masing-masing sektor, sebanyak 51 persen terserap di IKM alas kaki, disusul 46 persen di IKM produk dari kulit dan sisanya 3 persen di IKM penyamakan kulit.
Sebaran IKM alas kaki di seluruh Indonesia, sebanyak 49,62 persen di Jawa Barat dan 32,30 persen di Jawa Timur.
"Konsentrasi di Jawa Barat berada di daerah Bogor, Bandung, dan Tasikmalaya, sedangkan untuk Jawa Timur di daerah Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang dan Magetan," kata Airlangga
Produksi Menurun
Kepala Koperasi Sandal Sepatu Bogor (Kosebo), Mamun, mengatakan, seiring perkembangan zaman dan persaingan pada era globalisasi, IKM di kawasan tersebut mengalami pasang surut pesanan sepatu dari pelanggan.
Dia mengeluhkan, saat ini kondisi pasar sepatu lokal kurang memihak kepada pelaku IKM Ciomas. Sebab, salah satu lapak atau pusat perdagangan sepatu di Bogor, yaitu Pasar Anyar, tidak lagi menguntungkan bagi kalangan IKM alas kaki Ciomas. Dia menegaskan, hal ini terjadi karena produk lokal kalah bersaing dengan produk impor yang membanjiri pasaran.
"Di sini yang (pusat) terbesar di Indonesia cuma di Pasar Anyar. Sepatu (dari) China juga dijual di Pasar Anyar, sekarang lebih dari separuhnya. Gara-gara itu (pengusaha) banyak yang mati suri," sesal Mamun.
Mamun menambahkan, selain persoalan daya saing produk IKM, yang menjadi persoalan pengembangan IKM di Ciomas adalah akses permodalan dan juga akses pasar terhadap produk.
"Jadi, yang dibutuhkan itu pemasaran, modal pun kalau enggak ada pesan ya percuma, mau dikasih modal besar juga percuma," kata dia.
Dia berharap, ke depan pemerintah sebagai pemangku kepentingan agar membantu para pelaku IKM dapat mengembangkan bisnisnya, salah satunya dengan kebijakan yang memberikan akses pasar dan peningkatan pesanan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




