Bawaslu Awasi Ketat Pilkada dengan Paslon Tunggal

Kamis, 19 Januari 2017 | 23:14 WIB
YP
FH
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: FER
Ilustrasi Pilkada
Ilustrasi Pilkada (Beritasatu.com)

Jakarta - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Muhammad, mengatakan, pihaknya akan memberikan pengawasan khusus terhadap penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (Pilkada) dengan pasangan calon tunggal. Pasalnya, dalam pilkada tersebut, pasangan calon akan berhadapan dengan kotak kosong.

"Kami akan serius melakukan pengawasan ketat di pilkada dengan paslon tunggal sehingga hak politik rakyat bisa tersalurkan dengan baik, apakah memilih paslon tersebut, atau tidak mendukung atau mendukung kotak kosong," ujar Muhmmad seusai diskusi bertajuk "Outlook Visi Bawaslu Ke Depan Dalam Upaya Pencegahan Kerawanan Pemilu" di Media Centre Gedung Bawaslu RI, Jalan Thamrin, Jakarta, Kamis (19/1).

Menurut Muhammad, pihaknya akan mengawasi kampanye dari kelompok-kelompok yang mendukung kotak kosong tersebut. Tak hanya kotak kosong, kata dia, pasangan calon tunggal juga akan diawasi secara ketat.

"Apalagi, rata-rata pilkada dengan pasangan calon tunggal berasal dari petahana. Hal ini rentan penyalahgunaan wewenang dan memobilisasi birokrasi," jelas Muhammad.

Fenomena pasangan calon tunggal, menurut dia, bisa terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya dengan memborong partai politik sehingga bisa mudah memenangkan pilkada.

"Bisa juga terjadi karena adanya sengketa dan masalah pencalonan. Bahkan ada pilkada yang sudah terdiri dari dua pasangan calon, namun karena ada sengketa pencalonan, maka salah satu dibatalkan sehingga menjadi pilkada dengan paslon tunggal," jelas dia.

Sementara Ketua Komisi II DPR, Zainuddin Amali, mengatakan, pihaknya membuka kemungkinan untuk mengatur kembali pilkada dengan pasangan calon tunggal. Menurut Zainuddin, pengaturan tersebut dalam rangka perbaikan dan peningkatan kualitas demokrasi.

"Ya tentu tidak tertutup kemungkinan, kalau ada evaluasi dan itu signifikan material harus kita ubah. Saya kira harus diperbaiki dan saya kira sudah berlangsung terus," ujarnya.

Zainuddin menilai, adanya fakta pasangan calon tunggal bukan karena kesalahan partai politik. Menurut dia, hal ini lebih didorong oleh pragmatisme pasangan calon.

"Bukan pragmatisme partai tetapi calon, kan ingin menang semua dengan cara mudah, yakni melawan kotak kosong," ungkap dia.

Selain itu, Zainuddin mengakui bahwa adanya paslon tunggal kadang tidak terdesain dari awal. "Karena adanya persoalan hukum, di tengah tahapan pilkada, sehingga salah satu paslon gugur dan mengakibatkan paslon tunggal," tambahnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon