BNPB Ajak Warga Laporkan Banjir Lewat Platform PetaBencana

Rabu, 1 Februari 2017 | 15:39 WIB
AR
FH
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: FER
Ilustrasi Tampilan PetaBencana.id.
Ilustrasi Tampilan PetaBencana.id. (Dok. PetaBencana)

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengembangkan PetaBencana.id, sebuah aplikasi melalui situs yang bisa mengundang partisipasi masyarakat untuk melaporkan kejadian bencana banjir di wilayahnya secara langsung (realtime).

Kekuatan sosial media (sosmed) saat ini telah berkembang pesat. Oleh karena itu, PetaBencana hadir berkat dukungan USAID dan Massachusetts Information Technology (MIT) Urban Risk Lab. Aplikasi pertama di dunia ini, melibatkan pelaporan masyarakat secara realtime dan masyarakat dapat mengakses informasi kebencanaan tersebut. Platform yang memuat peta kebencanaan ini juga gratis dan open source.

Pengguna dapat mengunjungi situs PetaBencana untuk mengakses informasi banjir terkini di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), Bandung dan Surabaya. Laporan yang disampaikan warga juga sebelumnya akan diverifikasi untuk menghindari informasi palsu (hoax).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, hanya Jabodetabek, Bandung dan Surabaya yang baru awal dikembangkam karena dikaitan dengan program smart city.

"Kita kembangkan di Jabodetabek dengan target 31 juta pengguna platform ini, Bandung 9 juta jiwa dan Surabaya 10 juta jiwa sehingga totalnya 50 juta jiwa," katanya di Jakarta, Rabu (1/2).

Laporan warga ketika membuka platform ini dapat dibagikan melalui media sosial seperti Twitter, layanan pesan instan telegram, aplikasi lokal seperti QLUE, PasangMata dan Z-Alert.

Sementara itu, tambah Sutopo, aplikasi Whatsapp tidak merespon dan justru enggan mendukung misi kemanusiaan ini. Sutopo menjelaskan, jika peta bencana ingin menggunakannya harus membayar mahal.

Proyek yang dimulai September 2016 ini akan berlangsung hingga Juni 2017. Untuk kedepannya, lanjut Sutopo, akan dikembangkan platform untuk bencana lain sepertu erupsi gunung api dan gempa bumi.

Kehadiran aplikasi ini merupakan salah satu upaya menampung informasi dari masyarakat untuk melaporkan kejadian bencana. Verifikasinya tetap ada pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

"Setiap informasi yang dikembangkan BNPB ini nanti muaranya ke InAWARE Disaster Management Early Warning and Decision Support Capacity Enhancement. Dalam lima menit bencana sudah dapat dilaporkan," ucapnya.

Peneliti Massachusetts Information Technology Urban Risk Lab, Etienne Turpin, mengungkapkan, PetaBencana ini gratis di Indonesia dan berupaya bagaimana pengguna sosial media dapat saling berbagi informasi bencana untuk menghindari dampak dan mengurangi risikonya.

"Berbagi informasi itu bisa dari antar warga, warga dengan pemerintah atau sebaliknya. 50 juta pengguna tentu akan efektif dan bermanfaat dalam memberikan informasi seputar bencana," ujarnya.

BNPB menyebut Januari-Februari 2017 adalah puncak musim hujan. Menurut Sutopo kondisi 2017 lebih basah dibanding 2015 karena El Nino dan cenderung kering dibanding 2016. Ketika puncak musim hujan ancaman bencana banjir, longsong dan puting beliung juga akan meningkat.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon