Antisipasi Karhutla, APP Sinar Mas Genjot Program DMPA
Jumat, 10 Februari 2017 | 14:11 WIB
Jakarta - Sumatera Selatan (Sumsel) sempat menjadi perhatian dunia akibat terbakarnya 736.563 hektare areal hutan dan lahan pada 2015 lalu yang mengakibatkan bencana kabut asap hingga ke negara tetangga. Sumsel termasuk wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang umumnya terjadi pada setiap puncak kemarau.
Ikut mengantisipasi karhutla di wilayah Sumsel ini, Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas membantu Pemprov Sumsel, salah satunya dengan menggenjot program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Program ini dilakukan agar masyarakat bisa lebih mandiri dalam memanfaatkan tanaman kehidupan dan menghentikan aksi pembakaran lahan.
Untuk melaksanakan program ini, APP bermitra dengan PT Bumi Andalas Permai (BAP) selaku penyuplai bahan baku pulp dan kertas.
"Program ini mampu mengubah kebiasaan masyarakat untuk pengelolaan lahan pertanian yang benar tanpa melakukan pembakaran lahan," kata Iwan Hendri selaku Social and Comodity Development PT BAP dalam keterangan tertulis yang diterima, di Jakarta, Jumat (10/2).
Program DMPA dilaksanakan dengan menggandeng petani di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI, Sumsel untuk bisa melakukan kerjasama Pemanfaatan Tanaman Kehidupan. Sebanyak 20 persen lahan konsesi dari lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) perusahaan dikelola masyarakat Kecamatan Air Sugihan.
Beberapa kelompok Maju Tani yang mengikuti program DMPA hingga akhir 2016, antara lain Kelompok Distrik Air Sugihan Desa Bukit Batu. Kelompok ini terdiri dari 24 kepala keluarga yang awalnya hanya menggarap lahan pemberian pemerintah sebanyak 2 hektar. Namun, dengan adanya konsesi lahan dari PT. BAP, mereka bisa menanam jagung di lahan seluas 24 hektar. Lahan tersebut dibagi seluas 1 hektar untuk satu anggota kelompok DMPA.
Iwan mengatakan, beberapa kemudahan yang didapatkan dari program Kelompok Maju Tani DMPA ini adalah para petani bisa mendapatkan bibit jagung, pupuk MPK dan racun hama dengan mudah dan kualitas yang bagus.
"Program DMPA juga bisa melepaskan para petani dari jeratan bunga tengkulak yang melambung tinggi. Mereka juga tersadar untuk tidak melakukan pembakaran hutan, karena bisa memanfaatkan lahan pascapanen padi," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




