Suara AHY-Sylvi Belum Tentu Mengalir ke Anies-Sandi

Rabu, 15 Februari 2017 | 19:40 WIB
FS
YD
Penulis: Fana F Suparman | Editor: YUD
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur: Agus-Sylvi dan Anies-Sandiaga
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur: Agus-Sylvi dan Anies-Sandiaga (Beritasatu.com)

Jakarta - Berdasar perhitungan cepat atau quick count sejumlah lembaga, pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni hampir dipastikan gagal melaju ke putaran kedua.

Dari quick count Jaringan Suara Indonesia (JSI) yang telah rampung 100% misalnya, pasangan Agus-Sylvi hanya mampu meraup suara 17,53%. Angka ini tertinggal jauh ketimbang pasangan nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang meraih 41,5% dan pasangan nomor urut 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang mendapatkan 40,97%.

Dengan tidak adanya pasangan calon yang meraih 50 % plus satu, Pilkada DKI akan berlanjut dengan putaran kedua yang bakal berlangsung pada April 2017 mendatang.

Manajer Riset JSI, Rudi Ruswandi mengatakan, anjloknya suara Agus-Sylvi lantaran pemilihnya beririsan dengan pemilih Anies-Sandi. Kedua pasangan ini sama-sama menjaring suara dari masyarakat yang anti-Ahok.

Meski demikian, pada putaran kedua Pilkada DKI nanti, suara pendukung Agus-Sylvi belum tentu mengalir ke pasangan Anies-Sandi. Hal ini karena terdapat pendukung Agus-Sylvi yang fanatik. Para pendukung ini lebih baik tidak menggunakan hak pilihnya atau golput ketimbang mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies-Sandi di putaran kedua.

"Tidak otomatis kalau pasangan nomor urut 1 gugur, dukungannya pindah ke pasangan nomor 3 karena ada pemilih-pemilih fanatik juga di pasangan nomor 1. Malah bisa saja partisipasi turun karena tidak memilih. Bisa jadi begitu," kata Rudi dalam konferensi pers Quick Count JSI di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (15/2).

Menghadapi putaran kedua, tak menutup kemungkinan, partai-partai yang sebelumnya mendukung Agus-Sylvi akan mendeklarasikan dukungan kepada salah satu pasangan yang lolos putaran dua. Menurut Rudi, manuver-manuver partai politik ini tidak berpengaruh besar terhadap keterpilihan pasangan calon. Berdasarkan pengalaman Pilkada sebelumnya, kemenangan lebih banyak ditentukan oleh figur calon yang diusung.

"Dukungan partai tidak besar. Pengalaman saya, Pilkada pengaruhnya di figur. Partai itu cuma agar calon masuk ke gelanggang Pilkada. Figur pun terkonsentrasi ke calon gubernur, calon bupati, atau calon wali kota. Dengan demikian, pada putaran kedua, dukungan partai tidak terlalu banyak dapat mendulang suara. Partai hanya berperan untuk menggiring suara konstituen," katanya.

Rudi menambahkan, dari survei yang dilakukan JSI sebelumnya, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja petahana sangat tinggi. Apresiasi masyarakat ini dapat menjadi modal pasangan Basuki-Djarot dalam menghadapi putaran kedua terutama dalam menggaet pemilih terutama pemilih rasional. Namun, Rudi mengingatkan, tak sedikit masyarakat yang tidak menginginkan pasangan ini kembali menjabat.

"Tingkat kepuasan ke Ahok cukup tinggi. Ini jadi salah satu modal utama. Ini untuk pemilih-pemilih rasional, tapi tingkat menginginkan kembali Ahok jadi gubernur tidak besar," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon