Degradasi Lingkungan Tingkatkan Frekuensi Banjir dan Longsor
Rabu, 22 Februari 2017 | 22:14 WIB
Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, saat ini laju degradasi lingkungan terjadi dengan pesat. Pertambahan penduduk, urbanisasi, degradasi lingkungan dan tingginya kebutuhan lahan, meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometerologi.
Bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi adalah banjir dan longsor. Terdapat 63,7 juta jiwa penduduk Indonesia di 315 kabupaten/kota terpapar potensi bencana banjir. Sedangkan 40,9 juta jiwa di 274 kabupaten/kota terpapar potensi bencana longsor.
Kepala BNPB, Willem Rampangilei, mengatakan, dalam rekapitulasi bencana dari Januari 2017-22 Februari 2017 terdapat 22 provinsi, 95 kabupaten/kota terdampak bencana. Sebanyak 545.257 orang menderita dan mengungsi serta 800.000 masyarakat terdampak.
Terkait bencana banjir lanjutnya, ada sejumlah penyebab utama banjir yakni kondisi alam seperti geografi, topografi, geometri sungai, curah hujan, pasang surut air laut dan terjadinya penurunan permukaan tanah.
Penyebab lainnya, karena faktor manusia yang tinggal di permukiman bantaran sungai, tata ruang daerah aliran sungai (DAS) hulu dan hilir yang belum terintegrasi dengan baik, sampah, membuang sampah di sungai dan berkurangnya daerah resapan air.
"Hal ini membuat terjadinya laju degradasi lingkungan yang pesat," katanya di Jakarta, Rabu (22/2).
Di sisi lain, pola curah hujan juga berubah seiring dampak perubahan iklim. Sebelum dampak itu, musim kemarau berlangsung selama 6 bulan dan musim hujan 6 bulan. Namun untuk saat ini, musim hujan berlangsung 4 bulan dan musim kemarau 8 bulan. Bahkan dalam 4 bulan musim hujan itu, curah hujan terkadang ekstrem.
Pengaruh penggunaan lahan juga mempengaruhi aspek hidrologi. Di Jakarta air di DAS hanya 45 persen sisanya 55 persen air limpasan ke sungai. Namun kondisi terkini hanya 15 persen ditahan di DAS selebihnya limpasan ke sungai.
Willem menambahkan, sejak 1972-2014 perubahan penggunaan lahan sangat tajam. Zona lahan hijau semakin menyusut dan berubah menjadi zona merah, sehingga Jakarta rawan terhadap banjir.
Melihat Jakarta tentu tidak terlepas dari daerah penyangga. Dalam catatan BNPB, run off air atau limpasan air cukup tinggi di daerah penyangga seperti Tangerang, Depok dan Bogor.
"Bahkan Jakarta juga memiliki run off air tinggi sebesar 85 persen, 6 persen menyerap ke tanah dan 8 persennya menguap," ucapnya.
Namun, ia menilai, penanganan banjir Jakarta sudah baik. Normalisasi sungai yang sudah dilakukan merupakan bagian dari mitigasi bencana secara struktural. Sedangkan non struktural perlunya perubahan sikap warga untuk menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




