Gedung Putih Larang Media-media Besar Liput Konferensi Pers

Sabtu, 25 Februari 2017 | 16:28 WIB
FB
FB
Penulis: Faisal Maliki Baskoro | Editor: FMB
Donald Trump.
Donald Trump. (AFP)

Washington - Gedung Putih melarang empat media besar untuk meliput konferensi pers tanpa kamera yang dilakukan juru bicara Sean Spicer. Media tersebut adalah CNN, New York Times, Politico, dan Los Angeles Times.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut New York Times, NBC News, ABC, CBS, dan CNN sebagai media palsu dan musuh rakyat Amerika. Media-media tersebut memang sangat kritis membahas kebijakan Trump.

Wall Street Journal, yang ikut dalam konferensi pers tersebut, mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui ada media yang dilarang meliput. Sebagai bentuk rasa solidaritas, WSJ mengatakan mereka tidak akan mengikuti konferensi pers tertutup di masa depan.

Washington Post kebetulan tidak mengirim reporter dalam konferensi pers tersebut.

Sementara reporter CNN Sara Murray mengatakan bahwa sebelum konferensi pers dimulai, para jurnalis harus mengisi daftar kehadiran. Dirinya mengisi daftar tersebut meskipun biasanya hal ini tidak pernah dilakukan sebelumnya.

"Ketika CNN ingin masuk, staf Gedung Putih memblok kami dan mengatakan nama kami tidak masuk dalam daftar," kata dia.

"Sepertinya Gedung Putih pilih-pilih dalam konferensi pers ini. Breitbart, The Washington Times, One America News Network -media yang dianggap Gedung Putih lebih disukai Trump dibolehkan masuk sementara, Politico, NY Times, dan LA Times dilarang".

Ketua Asosiasi Koresponden Gedung Putih Jeff Mason mengatakan bahwa organisasinya masih mencari informasi mengenai insiden ini.

Editor Eksekutif Washington Post Marty Baron mengatakan bahwa keputusan Gedung Putih membatasi media seperti NY Times, CNN, Politico, LA Times dan BuzzFeed sangat mengecewakan.

"Administrasi Trump berjalan ke jalan yang tidak demokratis. Tidak ada yang bisa diraih dengan membatasi akses informasi publik. Saat ini kami masih mengevaluasi respon kami jika hal serupa terjadi lagi".

Di situs The Washington Post, tertulis "Democracy Dies in Darkness/ Demokrasi Mati dalam Kegelapan" tepat di bawah banner The Washington Post.

Editor Eksekutif NY Times Dean Baquet mengatakan bahwa hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah panjang NY Times.

"Kami memprotes keras pembatasan terhadap NY Times dan organisasi media lainnya. Akses terbuka media ke pemerintahan yang transparan sangat penting bagi kepentingan nasional".



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon