Ancaman Kemaritiman Bisa Diatasi dengan Dynamic System

Rabu, 1 Maret 2017 | 22:17 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan, Laksda Amarulla Octavian (kedua dari kanan) bersama pakar maritim dari Amerika Serikat dan negara lain menjadi pembicara dari seminar tentang pertahanan maritim (Maritime Defense Seminar) di Jakarta, Rabu, 1 Maret 2017.
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan, Laksda Amarulla Octavian (kedua dari kanan) bersama pakar maritim dari Amerika Serikat dan negara lain menjadi pembicara dari seminar tentang pertahanan maritim (Maritime Defense Seminar) di Jakarta, Rabu, 1 Maret 2017. (Istimewa/Istimewa)

Jakarta - Sebagai sebuah negara kepulauan, berbagai ancaman kemaritiman berpotensi terjadi di Indonesia. Untuk menangani ancaman kemaritiman (maritime threat assessment) itu bisa menggunakan sistem dinamis (dynamic system). 

Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan (Unhan) Laksda Amarulla Octavian pada hari kedua seminar bertema "Maritime Defense Littoral Environment" yang digelar di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (1/3).

"Dalam maritime threat assessment, baik yang bersifat ancaman tradisional maupun ancaman nontradisional, dynamic system bisa diterapkan," ujar Amarulla. Seminar itu membahas berbagai aspek keamanan nasional Indonesia sebagai negara kepulauan dan implementasi dari kebijakan pemerintah terkait konsep "Poros Maritim Dunia".

Dosen Unhan Dr Susaningtyas NH Kertopati mengapresiasi penggunaan dynamic system itu dalam mengatasi ancaman kemaritiman di Tanah Air. "Data kualitatif yang ada akan dikuantitaifkan agar dapat disusun berbagai model yang aplikatif. Dengan membangun model dalam bentuk persamaan matematika, maka berbagai skenario dapat disimulasikan untuk menetapkan prioritas kepentingan nasional sebagai negara maritim," tuturnya.

Tuan rumah seminar itu adalah Kementerian Pertahanan (Kemhan), Mabes TNI AL, US Naval Postgraduates School (NPS) dan US War College. Seminar digelar selama 3 hari berturut-turut mulai 28 Februari hingga 2 Maret 2017.

Seminar juga menghadirkan beberapa pakar kemaritiman dari Amerika Serikat, seperti Prof Henseller, Prof McCabe, Prof Wilson, dan Laksma Cedric Pringle. Sementara, dari Indonesia, hadir sebagai pembicara Prof Hasjim Djalal, mantan Kepala Staf TNI AL Laksamana (Purn) Dr Marsetio, Dr Arief Havas Oegroseno, Dr Nuning Kertopati, dan Dr Connie Rahkundini Bakrie.

Pakar kemaritiman dari Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, Dr Patrick Godman memuji pelaksanaan seminar kemaritiman itu. Menurutnya, seminar kali ini lebih komprehensif, karena pada sesi diskusi dibahas metodologi dan lintas disiplin ilmu dalam melakukan security assessment.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon