Salaman Raja Salman

Kamis, 2 Maret 2017 | 16:11 WIB
LB
B
Penulis: Lucky Bayu | Editor: B1
Lucky Bayu Purnomo, Market Research Danareksa, Program Doktoral Ilmu Ekonomi dan Dosen Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi, Universitas Trisakti
Lucky Bayu Purnomo, Market Research Danareksa, Program Doktoral Ilmu Ekonomi dan Dosen Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi, Universitas Trisakti

Apakah kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi pada 1-9 Maret 2017 akan mengubah keadaan?

Kunjungan Raja Salman diharapkan menjadi momentum terbaik bagi Indonesia, setelah kunjungan kenegaraan terakhir Raja Arab Saudi pada 47 tahun silam, tepatnya tahun 1970.

Sejak jelang kedatangan Sang Raja, berbagai macam spekulasi dirasakan oleh berbagai kalangan, terutama spekulasi terhadap potensi dan agenda kunjungan tersebut terhadap peluang kerja sama lintas negara pada masa mendatang. Terutama kerja sama yang dapat memberikan dampak dan manfaat bagi masyarakat luas di Indonesia dan negara di bawah pimpinan Raja Arab Saudi ketujuh tersebut.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, yang memiliki tugas utama menjadi penghubung utama antara dunia usaha dan pemerintah, melaporkan bahwa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi hingga saat ini berada pada papan tengah dalam daftar peringkat negara yang menanamkan modalnya di Indonesia. Sementara lima besar negara investor terbesar Indonesia adalah Singapura, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Manfaat bagi publik secara investasi dan ekonomi dalam hal ini berupa beberapa hal, seperti ikut serta berinvestasi di beberapa perusahaan milik pemerintah Indonesia bagi yang telah terdaftar sebagai perusahaan publik atau pun perusahaan milik pemerintah yang berencana untuk ikut serta dalam agenda IPO (initial public offering).

Dengan demikian, salah satu upaya dan strategi kerja sama tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kedua pihak untuk masa mendatang. Dan lebih jauh memberikan manfaat bagi publik untuk ikut serta merasakan "salaman" dengan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud.

Initial public offering (IPO) memiliki arti penawaran umum perdana saham sebuah perusahaan untuk masyarakat umum. Sehingga masyarakat umum memiliki kesempatan untuk membeli saham perusahaan tersebut setelah dilakukannya proses IPO. Saham perusahaan tersebut dapat dimiliki dengan cara membeli di bursa saham, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia yang menjadi muara para perusahaan publik, yang diperjualbelikan melalui sekuritas.

Adapun tujuan perusahaan menjual saham lewat mekanisme IPO adalah untuk memperoleh dana segar dari publik, yang pada umumnya dapat digunakan untuk menambah modal perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha, meningkatkan likuiditas perusahaan, serta memperkenalkan perusahaan ke publik pada masa mendatang.

Indonesia, melalui Bursa Efek Indonesia, akan dapat merasakan manfaat secara politik pula, bahwa dengan upaya tersebut, masyarakat internasional akan melihat lebih jauh potret keberhasilan dari agenda kerja sama lintas negara, dan diharapkan dapat memperoleh pembobotan positif atas upaya tersebut. Jumlah emiten di Indonesia dapat mengalami pertumbuhan dan likuiditas akan mengalami peningkatan.

Selain itu, dapat menjawab salah satu tantangan dalam Asean Community, perjanjian multilateral antarnegara Asean yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama di bidang politik, keamanaan, sosial budaya, dan ekonomi. Asean Community yang berlaku secara serentak 2015 dalam rangka terciptanya komunitas masyarakat Asean yang harmonis, makmur, dan terintegrasi.

Bila agenda kerja sama bisa dikonkretkan melalui mekanisme IPO, tentu akan positif dalam mendorong kinerja likuiditas transaksi yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Sebutlah salah satu korporasi milik Arab Saudi, yaitu Saudi Aramco (bahasa Arab: أرامكو السعودية ʾArāmkō s-Saʿūdiyyah), nama resminya adalah Saudi Arabian Oil Co., dapat menjadi salah satu perusahaan yang dapat menjadi mitra usaha, untuk ikut serta mendirikan perusahaan di Indonesia dengan tujuan IPO, atau pun ikut serta berinvestasi di perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, terutama perusahaan yang memiliki kiblat usaha yang sama yaitu energi.

Saudi Aramco adalah perusahaan minyak nasional Arab Saudi yang berkantor pusat di Dhahran, Arab Saudi. Nilai Saudi Aramco diperkirakan mencapai US$ 10 triliun, menjadikannya perusahaan dengan nilai tertinggi di dunia.

Saudi Aramco mempunyai cadangan minyak terbukti terbesar di dunia (lebih dari 260 billion barrels (4.1×1.010 m3) dan produksi minyak harian terbesar dunia. Saudi Aramco mengoperasikan jaringan hidrokarbon tunggal terbesar di dunia, Sistem Master Gas. Produksi tahunannya mencapai 3.479 billion barrels (553,100,000 m3), dan mereka menangani lebih dari 100 ladang minyak dan gas di Arab Saudi, termasuk 284,2 triliun kaki kubik standar cadangan gas alam. Saudi Aramco memiliki Ladang Ghawar, ladang minyak terbesar dunia, dan Shaybah yang juga salah satu ladang minyak terbesar dunia.

Selain melalui IPO, ada beberapa manfaat lainnya bagi pemerintah Indonesia yang berpotensi dikonkretkan dengan pemerintah Arab Saudi. Antara lain adalah pemerintah RI dapat memperoleh diskon harga minyak mentah ke Raja Arab. Kemudian, kerja sama pengelolaan dan pengembangan potensi sumber daya alam di Indonesia, salah satunya adalah kilang minyak dan pengelolaan serta pengembangan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Sektor tersebut menjadi sektor yang digadang-gadang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada pemerintahan saat ini.

Dengan demikian, akhir dari agenda kerja sama lintas negara antara Indonesia dan Arab Saudi diharapkan dapat ikut serta dirasakan dalam jangka pendek, menengah hingga jangka panjang, serta mencapai tujuan kerja sama yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

Lucky Bayu Purnomo, Market Research Danareksa, Program Doktoral Ilmu Ekonomi dan Dosen Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi, Universitas Trisakti



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon