Mabes Polri: Isu yang Tak Terkendali Punya Banyak Motif

Selasa, 4 April 2017 | 13:52 WIB
FA
FB
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: FMB
Irjen Boy Rafli Amar.
Irjen Boy Rafli Amar. (Antara)

Jakarta— Mabes Polri mengatakan banjir serangkaian isu-isu yang muncul belakangan ini seperti soal muslim-nonmuslim, kafir-nonkafir, komunisme, hingga pribumi dan nonpribumi adalah buah dari keterbukaan informasi.

Setiap isu yang muncul punya bermacam-macam motif di mana ada kelompok yang sengaja menghembuskan dan memanfaatkannya. Untuk itu penegakan hukum dan penerangan hukum kepada masyarakat menjadi kunci.

"Ini buah dari keterbukaan informasi sehingga masyarakat semakin gampang dan berani menyebarluaskan berbagai informasi yang masalahnya belum tentu benar," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar saat dihubungi Selasa (4/4).

Motif penyebarluasan dan pembuatan isu itu, Boy melanjutkan, dilatarbelakangi banyak motif di mana kadangkala motif-motif itu saling berpotongan di antara satu sama yang lain.

Misalnya motif menjatuhkan kredibilitas orang dan pemerintah, membuat suasana yang tidak nyaman, hingga memberikan kesan bahwa situasi negara saat ini sedang gawat.

"Semuanya ini beda dibanding saat sebelum era refomasi tahun 98 di mana infomasi saat itu tidak seterbuka saat ini. Semua itu saat ini didukung kemajuan teknologi termasuk dengan sarana medsos," lanjutnya.

Bahkan, mantan Kapolda Banten ini melanjutkan, yang terjadi saat ini adalah isu-isu itu bisa bergerak semakin meluas, tanpa batas dan filter. Bagi Boy bisa dibilang saat ini tidak ada filter yang cukup mumpuni untuk secara efektif mengerem kecenderungan ini.

"Memang ada hukum, ada UU ITE namun kita juga punya keterbatasan (mengedukasi) warga masyarakat untuk tidak sembarangan menyebarluaskan info yang berkaitan dengan SARA, susila, dan info tidak benar. Ini bukan hanya tugas polisi, ini tantangan bagi semua," sambungnya.

Apakah termasuk ada kelompok radikal yang memanfaakan dan menciptakan isu itu?

Boy menjawab, "Ya tadi saya bilang, banyak sekali motifnya. Ada kelompok yang menyebarkan ide khilafah, ini termasuk motif politik. Juga ada yang punya niat radikal. Ini macam-macam. Grand designnya bukan tidak ada, orang kan bergerak pasti punya tujuan dan tujuan ini misalnya untuk menciptakan ketidakstabilan. Kalau itu melanggar hukum maka saya ingatkan itu akan bermuara dengan proses hukum."



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon